Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamarku. Kemudian memutar kenopnya lalu masuk ke kamar meski belum kupersilahkan. Ia menghampiriku yang masih berkutat di depan laptop yang berwarna dominan biru. Terdengar lagu favoritku, Summer Love milik One Direction dimainkan di MP3. Laki-laki muda yang baru saja masuk ke kamar ini menyentuh bahuku.
“Mengedit foto-foto mereka lagi?” tanya laki-laki yang usainya 3 tahun lebih tua dariku itu.
Aku menoleh ke arahanya. “Ayolah Steven, apa masalahmu? Aku hanya iseng.” Wajahku pun berubah ke mimik manja.
Steven tersenyum sejenak lalu membelai rambutku, terasa penuh kasih sayang. “Kau bahkan belum pernah bertemu mereka ‘kan?” Tanya kakak semata wayangku ini lantas beranjak menuju ke ranjang dengan spray merah muda disamping meja belajar, lalu berbaring namun tetap memperhatikanku.
“Apa salahnya? Aku mengidolakan mereka. Teutama yang berambut pirang ini. bagaimana menurutmu?” tanyaku tentang pendapat Steven.
Kini Steven duduk lalu memandang ke layar monitor laptop yang ku tunjuk. Mengerutkan dahinya sejenak saat memperhatikan gambar seorang remaja laki-laki yang berpose bersama 4 temannya. “Tampan. Tapi apa kau yakin mereka benar-benar bertalenta? Yang aku tau, banyak boyband atau grup musik dan penyanyi yang hanya memanfaatkan penampilan fisik mereka yang menarik untuk mengait penggemar, khususnya remaja perempuan sepertimu. Rata-rata mereka tak menghiraukan lagi talenta dalam bermusik.” Komentar Steven.
“Aku sudah menyarankanmu untuk mendengarkan lagu-lagu mereka ‘kan? Maka kau akan tau bahwa One Direction juga punya kualitas.” Responku sembari kembali sibuk pada laptopku.
“Ya ya ya.. baiklah.. terserah kau saja. Ini sudah larut malam. Segeralah tidur.” Kata Steven mengalah lalu beranjak dari ranjangku, kemudian menghampiriku sekali lagi dan mencium ubun-ubunku. Aku menatapnya dengan kasih sayang yang ku punya. Tersenyum tulus pada saudara kesayangan yang selalu perhatian padaku ini.
Steven keluar dari kamarku setelah tersenyum lebar sebagai ucapan selamat malam untukku. Punggungnya menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup. Ku edarkan pandanganku. Lalu terhenti pada satu sisi dinding kamarku. Fokus pada sebuah poster yang tertempel di sana. Selembar poster yang selalu berhasil menarik perhatian lebihku di banding poster-poster lainnya. Tersenyum kecil padanya walau ku tau itu hanya selembar kertas bergambar manusia.
Aku kembali beralih pada meja belajar. Terdengar decitan kecil saat ku buka lacinya. Mengambil sebuah binder biru dan sebuah bolpoin bertinta hijau mengkilap lalu meletakkannya di atas meja.
Aku mulai menulis, sebuah surat dengan isi ungkapan perasaanku yang sejujurnya tak cukup hanya tertuang dalam kalimat. Kata demi kata mulai terangkai. Membuatku tersenyum sesaat. Puas dengan kata demi kata karangan perasaanku yang indah tertulis di atas kertas.
07 Januari 2012
Hi Niall.
Akhirnya kuputuskan menulis surat ini untukmu. Mungkin ini akan menjadi surat pertama dariku. Entah ini akan bertahan sampai nanti atau tidak, yang jelas aku hanya tau bahwa aku sedang jatuh cinta padamu, semua tentangmu, bahkan hal-hal kecil yang ada padamu. Aku tau aku bahkan belum pernah bertemu denganmu. Tapi aku rasa aku mengenalmu cukup baik. Aku tau tentangmu sejak kau muncul di halaman majalaha-majalah favoritku. Senyumanmu yang termuat di sana telah berhasil mebuatku jatuh hati padamu. Dan rasa itu semakin hari semakin besar. Aku belum begitu yakin dengan perasaan apa yang kualami saat ini. Aku bahkan tak tau apakah ini akan terus berlanjut atau justru akan menghilang seiring berjalannya waktu.
Terima kasih telah membuat hari-hariku semakin sempurna. Terutama akhir-akhir ini, aku terus memikirkanmu. Kapanpun, dimanapun. Aku tidak ingin mengehentikan itu. Tidak ingin mengehentikan bayanganmu yang selalu melintas dihadapanku.
Aku tersenyum, aku tertawa. Tidak pernah kurasakan semangat yang lebih dari sebelumnya. Aku benar yakin. Seakan-akan kau adalah alasan mengapa aku selalu berusah melakukan yang terbaik. Seakan-akan hanya kau lah satu-satunya hal yang yang terbaik dari yang terbaik.
Aku harap suatu hari kita bisa bertemu. Terkadang, aku merasa bahwa mimpiku tentangmu terasa begitu jauh. Seperti tak mungkin tercapai. Tapi aku percaya, tak ada yang tak mungkin. Siapa tau aku akan berjumpa denganmu suatu hari nanti. Selama cinta ini masih ku miliki, aku tak ingin hilang harapan agar kau dapat kumiliki.
Dengan tulus,
Claudia Clarista
Selesai. Aku telah menyelasaikan surat ini. Tekadku sudah bulat unutk mengirimnya besok melalui jasa pos agar sampai ke Mullingar, Irlandia nan jauh di sana. Ak telah mendapat alamat rumah Niall Horan di kampong halamannya dai seorang eman sesam directioner asal amerika yang telah berbaik hati membagi informasi itu padaku.
Meski nantinya surat ini mungkin akan lebih dulu sampai ke ayahnya, atau bahkan bias tak terbaca oleh orang yang kumaksud karena kesibukkannya, namun aku akan tetap menyampaikannya. Menyampaikan perasaanku tentang niall Horan. Seorang idola yang berhasil mencuri jatiku, yang selalu ku kagumi, dan sangat ingin kujumpai.
Aku jatuh cinta padanya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya. Tak peduli apakah dia mencintaiku juga atau tidak. Karena yang ku tau aku jatuh cinta, padanya. Dan tak seorangpun bisa menghalanginya. Bagiku, mendengar setiap bait lagu yang ia nyanyikan adalah keindahan tak terbatas.
***
Dengan berat hati, kulepas poster ini satu persatu dari dinding kamarku. Kamar yang nantinya tak lagi akan ku huni. Kini aku terpaku pada satu poster lagi yang tersisa. Poster yang menurutku paling berarti dibanding poster-poster yang lain. Poster yang entah bagaimana mampu memberi semangat lebih dan bisa membuatku tersenyum setiap hari. Poster yang memajang gambar seorang remaja pirang. Personil One Direction favoritku, Niall Horan.
Airmataku menetes. Karena alasan yang lebih memilukan dari pada melepas poster ini. Steven telah meninggal 3 minggu lalu. Kanker hati ganas yang ia rahasiakan dariku telah membuatnya pergi. Meninggalkan dunia, meningalkanku. Aku kembali teringat dengan surat dari Steven yang kutemukan dilaci kabinet kamarnya sehari setelah kepergiannya. Surat yang ternyata untukku. Surat dengan pesan agar aku meneruskan amanahnya. Bahwa ia ingin aku melanjutkan kuliah ke sebuah universitas tempat ia pernah menimba ilmu, di New York. Ia juga memintaku untuk lebih fokus pada pendidikanku dan berharap agar aku sebaiknya meninggalkan hal-hal kekanak-kanakan yang terkadang mencabangkan pikiranku. Termasuk tentang idolaku.
***
Masih musim panas di Paris. Ini hari terakhir aku menikmati liburan di kota mode ini, sebelum malam nanti aku akan kembali ke New York. Sudah beberapa tempat terkenal di sini habis kukunjungi demi memenuhi hasrat travelling-ku. Kini aku berada di sebuah bistro, semacam restoran kecil yang menyajikan masakan-masakan Indonesia. Satu diantara daftar tempat yang ingin kukunjungi namun belum berkesampatan sejak 3 hari lalu di sini. Sangat jarang ditemukan tempat semacam ini di kota sebesar Paris.
Ku lihat sekeliling, suasananya sangat Indonesia. Bahkan beberapa pengunjungnya juga orang Indonesia, sama sepertiku. Beberapa jenis makanan masing-masing 1 porsi yang kupesan kira-kira 5 menit lalu kini sudah tersaji di hadapanku. Aku siap menyantapnya.
Namun belum saja ku sentuh nasi putih di atas piringku, tiba-tiba seseorang duduk di hadapanku. Mengejutkanku! Aku tau siapa orang ini. Aku tau siapa dia. Orang ini.. orang ini adalah Niall Horan!
DEG. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku melongo di hadapanya. Namun ia justru terlihat tengah mengatur nafas, seperti baru saja terburu-buru kemari dan membuat nafasnya satu-satu. Apa ini mimpi? Diam-diam aku mencubit lengan kiriku. Sakit. Ini bukanlah mimpi. kehadiran malaikat ini nyata. Tapi apa yang ia lakukan di sini? Sendiri? Mengapa tiba-tiba ia duduk dihadapanku seperti malaikat yang tiba-tiba menghampiriku.
Niall mulai menemukan kembali nafasnya yang teratur. Ia melihat-lihat ke pintu distro dengan wajah khawatir. Bibirku masih kaku. Ingin sekali mengeluarkan banyak pertanyaan tapi pria ini seolah telah membekukanku dengan kehadirannya yang tanpa terduga. Seperti aku tengah berada di surga.
Niall menoleh padaku. “Hi,” sapanya canggung. Aku masih belum bisa berkata-kata. Hanya dapat tersenyum kecil dan itu pun masih kaku.
Niall tersenyum. “Maaf aku tiba-tiba di sini. Aku dalam keadaan darurat,” ucapnya.
“A-Apa maksudmu?” kini aku menemukan kembali suaraku.
“Tadinya aku tersesat. Lalu di kejar-kejar beberapa gadis. Karena aku melihat ada bistro kecil dan tak begitu ramai ini, jadi aku ke sini untuk menghindari mereka,” jawabnya masih dengan mimik yang was-was.
Tak sepatah katapun keluar dari mulutku untuk merespon perkataanya. Aku kembali melongo. Jelas saja ia di kejar-kejar. Ia bintang besar. Belakangan ku dengar nama boyband yang ia gawangi bersama 4 temannya itu memang semakin dikenal dunia. Lebih terkenal dibanding 1 tahun lalu, waktu dimana awal-awal aku mengidolakan mereka, One Direction.
Niall melambaikan tangannya di depan wajahku. Meyadarkanku dari hipnotis kehadirannya. Aku kembali tersenyum kaku. “Eh, lalu? Lalu, lalu apa yang kau lakukan di Paris? Tur? Terpisah dari teman-temanmu lalu tersesat dan gadis-gadis itu menemukanmu?” kini kata-kata mulai lancar mengalir lewat bibirku.
Niall kembali tersenyum. Membuatku terhipnotis lagi, walau hanya sesaat hingga senyum itu pudar berganti gumam. “Tidak. Aku sedang berlibur di Paris bersama ayahku. Tidak ada jadwal tur One Direction hingga 2 hari kedepan. Jadi aku ingin menyegarkan raga dari lelah. Hey. Ternyata kau mengenalku ya?”
“Tentu saja. Semua orang pasti tau One Direction dan para personilnya. Aku tidak tinggal di bawah batu. Aku bahkan pernah sangat mengidolakanmu,” jawabku. Mengabaikaan makanan-makanan di meja ini.
“Pernah?” dahinya berkerut.
“Umm ya. Seharusnya kau tau kau harus di kawal kemanapun karena hampir setiap orang mengenalmu. Terutama para gadis.”
Niall mengabaikan pertanyaanku sebentar. Memanggil pelayan dan memesan beberapa jenis makanan khas Paris yang ia tau yang tersedia di sini. Setelah itu ia kembali memperhatikanku. “Aku hanya ingin menikmati liburan sama seperti remaja lainnya. Tanpa dikawal.” Niall memperhatikan makanan-makanan di atas meja yang mungkin asing di matanya. Lantas kembali memandangku. Aku terhipnotis lagi karena tatapannya. Cepat-cepat kusadarkan diri sendiri.
“Tadi kau bilang kau ‘pernah’ mengidolakan One Direction? Lalu itu artinya kau bukan directioner lagi?”
Aku tersenyum kecil. Menyukai wajah penasaran Niall yang tanpa ia sadari ia terlihat semakin menarik. “Ya. Sejujurnya bertemu denganmu di sini bisa saja membuatku berteriak semauku. Aku masih mengagumi kalian. Tapi tak sefanatik dulu.”
“Kenapa? Apa musik kami semakin buruk bagimu?” Dahi Niall semakin berkerut. Membuatku kembali kalah mengontrol senyumku.
“Tidak. Musik kalian justru semakin baik. Tapi aku harus menghilangkan virus-virus One Direction infection kalian yang bisa memecah fokusku. Kakakku yang meninggal 5 bulan lalu memintaku untuk benar-banar fokus pada kuliahu, di New York.”
Niall tertawa kecil, menggemaskan. Mungkin sedikit geli saat ku bilang ‘One Direction Infection’. Namun saat ku ungkap kepergian kakakku wajahnya langsung berubah sedikit sendu.
***
“Ayolah Clara.. nyanyikan sedikit saja lirik lagu One Direction yang kau tau,” Niall terus memaksaku untuk bernyanyi. Cara bicaranya semakin terasa akrab meski kami baru bertemu sekitar 1 jam yang lalu. Kini kami duduk di sebuah kursi taman yang ada di Musse Rodin, museum yang tak begitu terkenal di banding Musee Louvre di Paris. Tempat ini menjadi tujuan kami untuk menghabiskan waktu hanya berdua setelah Niall memintaku menemaninya beberapa jam sambil menunggu ayahnya menyusul ia yang tersasar. Sengaja kami pergi ke sini karena yang kami tau museum adalah tempat yang biasanya sepi pengunjung remaja. Hanya ingin menghindarkan Niall dari kejaran penggemar.
“Umm baiklah.. tapi sedikt saja, ya..” kataku mangalah.
Niall menggangguk dengan sinar mata yang menggambarkan kepuasan.
“Wish that we could.. Be alone now.. If we could find some place to hide.. Make the last time.. Just like the first time.. Push a button and rewind..” aku menarik nafas agak panjang lalu kembali meneruskan lirik lagu selanjutnya. “Don't say the word that's on your lips, don't look at me that way.. Just promise you'll remember when the sky is grey..” Aku memandang Niall setelah menunduk selama benyanyi.
Niall tersenyum. Memamerkan jejeran kawat gigi itu. ia menarik nafas agak berlebihan. “Cause you were mine… for the Summer.. Now we know its.. nearly over.. Feels like snow… in September.. But I always.. Will remember.. You were my…. Summer love.. You always will be my….. Summer love..” Niall melanjutkan nyanyianku. Dengan suaranya yang selalu terdengar indah bagiku. Jantungku berdegup sangat kencang. Ini kali pertama aku mendengar pria ini bernyanyi secara langsung. Walau hanya terhitung detik, namun bagiku alunan bait-bait lagu yang ia lantunkan tadi sangatlah luar biasa. Betapa beruntungnya aku!
“Ngomong-ngomong, kenapa sampai saat ini kau belum mau berpacaran seperti Harry, Zayn, Liam dan Louis?” tiba-tiba aku membahas pertanyaan yang mungkin tak terduga oleh Niall. Ia menoleh ke arahku. Menatapku dengan sepasang mata hijaunya yang lebih dari indah.
“Aku hanya sedang menunggu seseorang yang tepat..” ucapnya lalu memutar pandangan ke sekitar.
“Kau belum menemukan orang yang tepat itu?” tanyaku lagi tanpa melepas pandanganku darinya.
“Sudah..” ucapnya lalu menoleh lagi ke arahku.
Namun aku hanya menunduk. Cukup kecewa dengan jawaban itu. Sepertinya anganku untuk memiliki orang ini memang harus kukubur dalam-dalam. Tak ada lagi harapan.
“Kau sendiri?” tanya Niall pelan namun sungguh menyentakku. Aku mengangkat dagu tapi tak ingin menatapnya. “Sebenarnya aku sempat menemukan orang yang tepat.. Tapi sekarang tak ada harapan lagi. Sudahlah.. aku yakin suatu hari aku akan temukan yang lebih baik..” ucapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Niall memandangku lebih serius. Tersirat pertanyaan-pertanyaan baru di wajahnya.
“Memangnya siapa orang yang tepat yang kau maksud? Kenapa tidak kau ungkapkan saja perasaanmu padanya sehingga kau akan punya pacar.” Tanyaku cepat agar Niall tak punya kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang jawabanku tadi. Kini aku menatap Niall setelah berhasil mengontrol emosiku.
“Aku tak bisa..” jawab Niall terdengar ragu.
“Kenapa tidak?” kini aku yang menyiratkan seribu tanya yang tergambar dari dahiku yang berkerut.
“Aku hanya mengenal tulisannya, dari surat-surat yang ia tulis untukku. Belum pernah bertemu dengannya secara langsung.” Jawab Niall lagi.
Aku agak kaget. ‘surat-surat?’ Apa mungkin…??? “Maksudmu?” tanyaku sekali lagi.
“Gadis itu telah mengirim beberapa surat yang menggambarkan perasaannya untukku. Ia mengirim surat-surat itu sejak sekitar 9 bulan lalu. Tapi entah kenapa 4 bulan terakhir ini ia tak lagi mengirim satu surat pun untukku. Surat terakhirnya ia sendiri yang mengantar langsung ke rumahku di Mullinggar, ayahku yang menerima surat itu. Ayahku bilang gadis itu sangat manis dan sopan. Aku kecewa tak bisa melihatnya langsung karena saat itu aku sedang tak berada di rumah, tur di Australia. Aku sedih saat tau ia menuliskan bahwa ia tak akan mengirim surat untukku lagi. Ia tak memberi alasan apa-apa. Padahal, lewat surat itu ia berhasil membuatku jatuh cinta padanya. Sejujurnya sampai detik ini pun aku masih menunggu kiriman suratnya lagi. Tapi itu tak pernah terjadi. Claudia Clarista, gadis penulis surat itu sudah benar-benar menghilang.” jelas Niall. Benar-benar jelas. Gadis yang ia maksud adalah aku. Tapi ia tidak menyadari itu. Sama sekali tidak. Ia mengenal gadis yang duduk di sampingnya ini sebagai Clara. Akulah Claudia Clarista, Niall. Orang yang sedang berbicara denganmu saat ini yang memperkenalkan dirinya sebagai Clara karena itu nama panggilannya.
Jantungku berpacu lebih cepat, sangat cepat. Hampir hilang kendali dan mungkin bisa saja membuaku mati di sini.
“Aku jatuh cinta padanya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya. Tak peduli apakah dia mencintaiku juga atau tidak. Karena yang ku tau bahwa aku jatuh cinta, padanya. Dan tak seorangpun bisa menghalanginya. Bagiku, membaca setiap kata lagu yang ia tuliskan adalah keindahan tak terbatas.” Niall menghela nafas sekali lagi. Kata-katanya barusan membuat mataku kembali berkaca-kaca. Aku membisu. Tak bisa berkata apa-apa. Aku hampir tak percaya. Ia mencintaiku? Mencintaiku lewat surat-surat yang ku kirim untukknya? Bahkan ia masih menunggu kedatangan suratku yang berikutnya meski ia tau aku tak bisa lagi menulis isi hatiku untuknya. Ya. Surat terakhir itu memang ku antar sendiri pada ayahnya, Bobby Horan. Beberapa waktu sebelum aku ke New Yok, aku meminta ayahku untuk pergi ke Mullinggar. Hanya demi mengantar surat terakhir itu untuknya. Hanya demi kau, Niall!
“Tapi..” Niall buru-buru melanjutkan bicaranya. Padahal aku baru saja ingin mengungkapkan kebenaran bahwa aku kini di hadapannya.
“Tapi apa?” tanyaku pura-pura penasaran karena sebenarnya sudah tak sabar mengatakan jati diriku pada Niall.
“Mungkin saja aku sedang jatuh cinta lagi. Pada gadis lain, yang nyata. Bukan gadis yang ku kenali tulisannya. Aku jatuh cinta pada gadis itu sejak pandangan pertama. Aku rasa aku mulai dilemma karena aku juga tak bisa melepaskan Claudia Clarista. Aku pikir aku masih mencintainya. Aku jatuh hati pada dua gadis. Aku tau itu bodoh. Tapi entahlah..” Niall berhenti berucap. Sekaligus menghentikan niatku untuk mengungkap siapa aku sebenranya. Beberapa menit yang lalu ia membuatku semakin cinta saat mendengar suara merdunya. Lalu dimenit berikutnya membuatku rapuh karena tau ia sudah menemukan gadis yang tepat. Tapi di menit berikutnya lagi, ia membuatku jatuh cinta lagi saat ku tau gadis yang ia maksud ternyata adalah aku sendiri. Dan kini ia kembali membuatku luka, patah hati, karena ia membagi cinta itu.
Aku hanya menunduk. Suasana menjadi hening seketika. Aku terdiam karena rasa yang tak karuan ini. dominan di landa sakit namun masih cinta. Niall juga terdiam dan menunduk, mungkin karena dilemanya membuat ia kepikiran.
“Menurutmu bagaimana?” Niall kembali buka suara sambil menoleh ke arahku.
“Eh, apanya yang bagaimana?” aku balik bertanya. Cara bicaraku mulai terasa canggung. Namun aku tetap berusaha mengendalikan emosiku walau itu sangat sulit.
“Apakah aku harus tetap bertahan pada gadis penulis surat-surat itu? atau sebaiknya aku beralih pada yang pasti, gadis yang sudah pernah kutemui?” kelihatannya Niall sangat mengaharapkan pendapatku.
“Saranku, mulailah cintai gadis yang sudah pernah kau temui itu sesungguhnya. Karena gadis penulis surat itu bahkan tak kau ketahui sedikitpun tentangnya. Tapi yang paling penting, ikuti kata hatimu.” ucapku sambil berusaha mngontrol gerak bibirku yang bergetar.
“Umm.. baiklah. Terima kasih untuk saranmu,” respon Niall singkat.
“Aku harus pergi. aku ada janji sebentar lagi untuk bertemu temanku di sebuah kafe,” ucapku tiba-tiba. Menyangkal. Karena aku benar-benar hanya ingin meninggalkan tempat ini sekarang. Meninggalkannya.
Niall menoleh ke arahku. Ia terlihat bingung. Tiba-tiba saja aku ingin meninggalkannya sementara ayahnya belum juga menjemputnya. Padahal sebelumnya aku telah berjanji untuk menemaninya sampai ayahnya datang. “Umm ya.. baiklah.” Ucapnya sambil mengikutiku berdiri dari kursi taman.
“Sampai jumpa” kataku sambil terburu-buru pergi dan tak lagi menunggu sepatah kata respon dari Niall. Maafkan aku, Niall. Tapi apa yang sudah kau ceritakan itu sangat melukaiku. Aku tak ingin menangis di hadapanmu. Aku harus menyingkir darimu. Maaf..
***
Aku melangkah cepat. Tak ingin ketinggalan pesawat menuju New York yang akan kutumpangi. Terima kasih Paris. Terima kasih atas pengalaman luar biasa di sini selama 3 hari ini. Terima kasih sudah membuat ku serasa di surga saat berbelanja di Rue De Grenelle. Terima kasih atas pemandangan indah kota romantismu yang ku lihat dua hari lalu dari puncak salah satu monument favoritku, Arc De Triomphe. Terima kasih untuk segalanya selama aku berlibur di sini. Juga terima kasih atas kemegahan Eifel Tower yang menggodaku untuk membuat harapan tentang cinta saat aku berada di puncaknya. Harapan untuk memiliki satu orang yang selalu mengisi hatiku. Satu oarng yang membuatku jatuh padanya sejak kali pertama aku melihat senyumnya, mendengar suaranya. Satu orang yang juga telah membuatku luka karenanya. Terima kasih terbesar atas kenangan aku dan dia yang bertemu kemudian berpisah di kota ini dalam waktu sesaat. Aku harap aku tak akan memendam sakit hati padamu, Paris. Karena kisah cinta yang menyakitkan itu bukan salahmu. Kau hanya saksi.
Aku tetap menyeret koperku. Dengan langkah galau. Diantara kesibukan masing-masing manusia di bandara ini. Meniti langkah sambil berusaha melupakan kejadian tadi siang. Kejadian yang sama sekali ingin kuhapus dari memori kepalaku, bahkan aku ingin mengulang waktu dan tak harus bertemu denganya, Niall Horan.
Seseorang meraih pergelangan tangan kiriku. Tiba-tiba mengejutkanku. Membuatku refleks menoleh ke arahnya. Dia.. Niall! Apa yang ia lakukan di sini? Baik. dia memang sudah tau aku akan kembali ke New York malam ini. Tadi siang sudah kuceritakan padanya. Tapi apa tujuannya kemari? Tiba-tiba mendatangiku. Tanpa diduga menggenggam tanganku dan menatapku lekat dengan sinar mata penghipnotisnya.
“Tolong jangan pergi.”ucapnya dengan nada bergetar, lalu memelukkku, erat. Aku membeku dalam pelukkannya. Shocked. “aku mohon jangan pergi, aku mencintaimu,” ucapnya lagi. Aku semakin terkejut, juga semakin membeku meski ia kini melepas pelukannya kemudian menatapku lebih dalam dari sebelumnya, dengan sepasang mata yang bagiku lebih dari indah.
“Apa maksudmu?” tanyaku dengan berbagai macam perasaan yang mnyelimuti benakku. Nada suaraku tak kalah bergetar. Bisa ku dengar detak jantungku sendiri.
“Aku mencintaimu. Sekarang ku tau cintaku padamu tak terbatas. Karena kau adalah Claudia Clarista, gadis penulis surat itu. Dan sesungguhnya kau pula lah gadis yang ku katakan telah membuatku membagi hatiku. Kau adalah gadis yang mampu membuatku jatuh cinta saat pertama aku melihatmu. Kau adalah gadis yang ku maksud siang tadi, Clara.” jawab Niall tegas. Guratan wajahnya menunjukan ia sungguh-sungguh.
Aku membisu. Ucapannya membuatku shocked sekali lagi. Tapi aku tak ingin kembali membeku bodoh. Aku memeluknya. Sama eratnya bahkan lebih erat dari pelukannya tadi. Niall mendekap hangat tubuhku. Membuatku air mataku tak tebendung mengalir dipipi lalu menetes di jaket abu-abu yang ia kenakan.
Aku mengendalikan emosi bahagiaku yang meluap-luap. Melepaskan dekapan ini. Aku dan Niall saling bertatapan. Mata itu selalu membuat cintaku untuknya terus bertambah.
“Tapi.. bagaimana kau tau adalah gadis penulis surat itu?” tanyaku sambil menyapu air mata.
Niall menyingkirkan rambutku yang sedikit menghalangi wajahku. “Tadi sore aku menunjukkan foto kita berdua yang diambil sebelum kita ke Musee Rodin pada ayah. Ayah bilang ia mengenal gadis di foto itu. gadis yang mengirim surat-surat padaku adalah gadis itu. kau adalah gadis itu.”
Aku tersenyum lebar. Menunjukan rasa bahagia yang lebih dari kata. “Aku juga mencintaimu. Kau adalah orang yang tepat yang ku maksud, yang ku nanti..”
Niall mendekapku sekali lagi aku tak bisa menahan bahagia ini. Terima kasih Paris. Hari ini kau menjadi saksi awal kisah cinta kami. Kisah cinta yang selalu mengukir kebahagiaan tak terbatas.
~The_End~
Seseorang mengetuk pintu kamarku. Kemudian memutar kenopnya lalu masuk ke kamar meski belum kupersilahkan. Ia menghampiriku yang masih berkutat di depan laptop yang berwarna dominan biru. Terdengar lagu favoritku, Summer Love milik One Direction dimainkan di MP3. Laki-laki muda yang baru saja masuk ke kamar ini menyentuh bahuku.
“Mengedit foto-foto mereka lagi?” tanya laki-laki yang usainya 3 tahun lebih tua dariku itu.
Aku menoleh ke arahanya. “Ayolah Steven, apa masalahmu? Aku hanya iseng.” Wajahku pun berubah ke mimik manja.
Steven tersenyum sejenak lalu membelai rambutku, terasa penuh kasih sayang. “Kau bahkan belum pernah bertemu mereka ‘kan?” Tanya kakak semata wayangku ini lantas beranjak menuju ke ranjang dengan spray merah muda disamping meja belajar, lalu berbaring namun tetap memperhatikanku.
“Apa salahnya? Aku mengidolakan mereka. Teutama yang berambut pirang ini. bagaimana menurutmu?” tanyaku tentang pendapat Steven.
Kini Steven duduk lalu memandang ke layar monitor laptop yang ku tunjuk. Mengerutkan dahinya sejenak saat memperhatikan gambar seorang remaja laki-laki yang berpose bersama 4 temannya. “Tampan. Tapi apa kau yakin mereka benar-benar bertalenta? Yang aku tau, banyak boyband atau grup musik dan penyanyi yang hanya memanfaatkan penampilan fisik mereka yang menarik untuk mengait penggemar, khususnya remaja perempuan sepertimu. Rata-rata mereka tak menghiraukan lagi talenta dalam bermusik.” Komentar Steven.
“Aku sudah menyarankanmu untuk mendengarkan lagu-lagu mereka ‘kan? Maka kau akan tau bahwa One Direction juga punya kualitas.” Responku sembari kembali sibuk pada laptopku.
“Ya ya ya.. baiklah.. terserah kau saja. Ini sudah larut malam. Segeralah tidur.” Kata Steven mengalah lalu beranjak dari ranjangku, kemudian menghampiriku sekali lagi dan mencium ubun-ubunku. Aku menatapnya dengan kasih sayang yang ku punya. Tersenyum tulus pada saudara kesayangan yang selalu perhatian padaku ini.
Steven keluar dari kamarku setelah tersenyum lebar sebagai ucapan selamat malam untukku. Punggungnya menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup. Ku edarkan pandanganku. Lalu terhenti pada satu sisi dinding kamarku. Fokus pada sebuah poster yang tertempel di sana. Selembar poster yang selalu berhasil menarik perhatian lebihku di banding poster-poster lainnya. Tersenyum kecil padanya walau ku tau itu hanya selembar kertas bergambar manusia.
Aku kembali beralih pada meja belajar. Terdengar decitan kecil saat ku buka lacinya. Mengambil sebuah binder biru dan sebuah bolpoin bertinta hijau mengkilap lalu meletakkannya di atas meja.
Aku mulai menulis, sebuah surat dengan isi ungkapan perasaanku yang sejujurnya tak cukup hanya tertuang dalam kalimat. Kata demi kata mulai terangkai. Membuatku tersenyum sesaat. Puas dengan kata demi kata karangan perasaanku yang indah tertulis di atas kertas.
07 Januari 2012
Hi Niall.
Akhirnya kuputuskan menulis surat ini untukmu. Mungkin ini akan menjadi surat pertama dariku. Entah ini akan bertahan sampai nanti atau tidak, yang jelas aku hanya tau bahwa aku sedang jatuh cinta padamu, semua tentangmu, bahkan hal-hal kecil yang ada padamu. Aku tau aku bahkan belum pernah bertemu denganmu. Tapi aku rasa aku mengenalmu cukup baik. Aku tau tentangmu sejak kau muncul di halaman majalaha-majalah favoritku. Senyumanmu yang termuat di sana telah berhasil mebuatku jatuh hati padamu. Dan rasa itu semakin hari semakin besar. Aku belum begitu yakin dengan perasaan apa yang kualami saat ini. Aku bahkan tak tau apakah ini akan terus berlanjut atau justru akan menghilang seiring berjalannya waktu.
Terima kasih telah membuat hari-hariku semakin sempurna. Terutama akhir-akhir ini, aku terus memikirkanmu. Kapanpun, dimanapun. Aku tidak ingin mengehentikan itu. Tidak ingin mengehentikan bayanganmu yang selalu melintas dihadapanku.
Aku tersenyum, aku tertawa. Tidak pernah kurasakan semangat yang lebih dari sebelumnya. Aku benar yakin. Seakan-akan kau adalah alasan mengapa aku selalu berusah melakukan yang terbaik. Seakan-akan hanya kau lah satu-satunya hal yang yang terbaik dari yang terbaik.
Aku harap suatu hari kita bisa bertemu. Terkadang, aku merasa bahwa mimpiku tentangmu terasa begitu jauh. Seperti tak mungkin tercapai. Tapi aku percaya, tak ada yang tak mungkin. Siapa tau aku akan berjumpa denganmu suatu hari nanti. Selama cinta ini masih ku miliki, aku tak ingin hilang harapan agar kau dapat kumiliki.
Dengan tulus,
Claudia Clarista
Selesai. Aku telah menyelasaikan surat ini. Tekadku sudah bulat unutk mengirimnya besok melalui jasa pos agar sampai ke Mullingar, Irlandia nan jauh di sana. Ak telah mendapat alamat rumah Niall Horan di kampong halamannya dai seorang eman sesam directioner asal amerika yang telah berbaik hati membagi informasi itu padaku.
Meski nantinya surat ini mungkin akan lebih dulu sampai ke ayahnya, atau bahkan bias tak terbaca oleh orang yang kumaksud karena kesibukkannya, namun aku akan tetap menyampaikannya. Menyampaikan perasaanku tentang niall Horan. Seorang idola yang berhasil mencuri jatiku, yang selalu ku kagumi, dan sangat ingin kujumpai.
Aku jatuh cinta padanya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya. Tak peduli apakah dia mencintaiku juga atau tidak. Karena yang ku tau aku jatuh cinta, padanya. Dan tak seorangpun bisa menghalanginya. Bagiku, mendengar setiap bait lagu yang ia nyanyikan adalah keindahan tak terbatas.
***
Dengan berat hati, kulepas poster ini satu persatu dari dinding kamarku. Kamar yang nantinya tak lagi akan ku huni. Kini aku terpaku pada satu poster lagi yang tersisa. Poster yang menurutku paling berarti dibanding poster-poster yang lain. Poster yang entah bagaimana mampu memberi semangat lebih dan bisa membuatku tersenyum setiap hari. Poster yang memajang gambar seorang remaja pirang. Personil One Direction favoritku, Niall Horan.
Airmataku menetes. Karena alasan yang lebih memilukan dari pada melepas poster ini. Steven telah meninggal 3 minggu lalu. Kanker hati ganas yang ia rahasiakan dariku telah membuatnya pergi. Meninggalkan dunia, meningalkanku. Aku kembali teringat dengan surat dari Steven yang kutemukan dilaci kabinet kamarnya sehari setelah kepergiannya. Surat yang ternyata untukku. Surat dengan pesan agar aku meneruskan amanahnya. Bahwa ia ingin aku melanjutkan kuliah ke sebuah universitas tempat ia pernah menimba ilmu, di New York. Ia juga memintaku untuk lebih fokus pada pendidikanku dan berharap agar aku sebaiknya meninggalkan hal-hal kekanak-kanakan yang terkadang mencabangkan pikiranku. Termasuk tentang idolaku.
***
Masih musim panas di Paris. Ini hari terakhir aku menikmati liburan di kota mode ini, sebelum malam nanti aku akan kembali ke New York. Sudah beberapa tempat terkenal di sini habis kukunjungi demi memenuhi hasrat travelling-ku. Kini aku berada di sebuah bistro, semacam restoran kecil yang menyajikan masakan-masakan Indonesia. Satu diantara daftar tempat yang ingin kukunjungi namun belum berkesampatan sejak 3 hari lalu di sini. Sangat jarang ditemukan tempat semacam ini di kota sebesar Paris.
Ku lihat sekeliling, suasananya sangat Indonesia. Bahkan beberapa pengunjungnya juga orang Indonesia, sama sepertiku. Beberapa jenis makanan masing-masing 1 porsi yang kupesan kira-kira 5 menit lalu kini sudah tersaji di hadapanku. Aku siap menyantapnya.
Namun belum saja ku sentuh nasi putih di atas piringku, tiba-tiba seseorang duduk di hadapanku. Mengejutkanku! Aku tau siapa orang ini. Aku tau siapa dia. Orang ini.. orang ini adalah Niall Horan!
DEG. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku melongo di hadapanya. Namun ia justru terlihat tengah mengatur nafas, seperti baru saja terburu-buru kemari dan membuat nafasnya satu-satu. Apa ini mimpi? Diam-diam aku mencubit lengan kiriku. Sakit. Ini bukanlah mimpi. kehadiran malaikat ini nyata. Tapi apa yang ia lakukan di sini? Sendiri? Mengapa tiba-tiba ia duduk dihadapanku seperti malaikat yang tiba-tiba menghampiriku.
Niall mulai menemukan kembali nafasnya yang teratur. Ia melihat-lihat ke pintu distro dengan wajah khawatir. Bibirku masih kaku. Ingin sekali mengeluarkan banyak pertanyaan tapi pria ini seolah telah membekukanku dengan kehadirannya yang tanpa terduga. Seperti aku tengah berada di surga.
Niall menoleh padaku. “Hi,” sapanya canggung. Aku masih belum bisa berkata-kata. Hanya dapat tersenyum kecil dan itu pun masih kaku.
Niall tersenyum. “Maaf aku tiba-tiba di sini. Aku dalam keadaan darurat,” ucapnya.
“A-Apa maksudmu?” kini aku menemukan kembali suaraku.
“Tadinya aku tersesat. Lalu di kejar-kejar beberapa gadis. Karena aku melihat ada bistro kecil dan tak begitu ramai ini, jadi aku ke sini untuk menghindari mereka,” jawabnya masih dengan mimik yang was-was.
Tak sepatah katapun keluar dari mulutku untuk merespon perkataanya. Aku kembali melongo. Jelas saja ia di kejar-kejar. Ia bintang besar. Belakangan ku dengar nama boyband yang ia gawangi bersama 4 temannya itu memang semakin dikenal dunia. Lebih terkenal dibanding 1 tahun lalu, waktu dimana awal-awal aku mengidolakan mereka, One Direction.
Niall melambaikan tangannya di depan wajahku. Meyadarkanku dari hipnotis kehadirannya. Aku kembali tersenyum kaku. “Eh, lalu? Lalu, lalu apa yang kau lakukan di Paris? Tur? Terpisah dari teman-temanmu lalu tersesat dan gadis-gadis itu menemukanmu?” kini kata-kata mulai lancar mengalir lewat bibirku.
Niall kembali tersenyum. Membuatku terhipnotis lagi, walau hanya sesaat hingga senyum itu pudar berganti gumam. “Tidak. Aku sedang berlibur di Paris bersama ayahku. Tidak ada jadwal tur One Direction hingga 2 hari kedepan. Jadi aku ingin menyegarkan raga dari lelah. Hey. Ternyata kau mengenalku ya?”
“Tentu saja. Semua orang pasti tau One Direction dan para personilnya. Aku tidak tinggal di bawah batu. Aku bahkan pernah sangat mengidolakanmu,” jawabku. Mengabaikaan makanan-makanan di meja ini.
“Pernah?” dahinya berkerut.
“Umm ya. Seharusnya kau tau kau harus di kawal kemanapun karena hampir setiap orang mengenalmu. Terutama para gadis.”
Niall mengabaikan pertanyaanku sebentar. Memanggil pelayan dan memesan beberapa jenis makanan khas Paris yang ia tau yang tersedia di sini. Setelah itu ia kembali memperhatikanku. “Aku hanya ingin menikmati liburan sama seperti remaja lainnya. Tanpa dikawal.” Niall memperhatikan makanan-makanan di atas meja yang mungkin asing di matanya. Lantas kembali memandangku. Aku terhipnotis lagi karena tatapannya. Cepat-cepat kusadarkan diri sendiri.
“Tadi kau bilang kau ‘pernah’ mengidolakan One Direction? Lalu itu artinya kau bukan directioner lagi?”
Aku tersenyum kecil. Menyukai wajah penasaran Niall yang tanpa ia sadari ia terlihat semakin menarik. “Ya. Sejujurnya bertemu denganmu di sini bisa saja membuatku berteriak semauku. Aku masih mengagumi kalian. Tapi tak sefanatik dulu.”
“Kenapa? Apa musik kami semakin buruk bagimu?” Dahi Niall semakin berkerut. Membuatku kembali kalah mengontrol senyumku.
“Tidak. Musik kalian justru semakin baik. Tapi aku harus menghilangkan virus-virus One Direction infection kalian yang bisa memecah fokusku. Kakakku yang meninggal 5 bulan lalu memintaku untuk benar-banar fokus pada kuliahu, di New York.”
Niall tertawa kecil, menggemaskan. Mungkin sedikit geli saat ku bilang ‘One Direction Infection’. Namun saat ku ungkap kepergian kakakku wajahnya langsung berubah sedikit sendu.
***
“Ayolah Clara.. nyanyikan sedikit saja lirik lagu One Direction yang kau tau,” Niall terus memaksaku untuk bernyanyi. Cara bicaranya semakin terasa akrab meski kami baru bertemu sekitar 1 jam yang lalu. Kini kami duduk di sebuah kursi taman yang ada di Musse Rodin, museum yang tak begitu terkenal di banding Musee Louvre di Paris. Tempat ini menjadi tujuan kami untuk menghabiskan waktu hanya berdua setelah Niall memintaku menemaninya beberapa jam sambil menunggu ayahnya menyusul ia yang tersasar. Sengaja kami pergi ke sini karena yang kami tau museum adalah tempat yang biasanya sepi pengunjung remaja. Hanya ingin menghindarkan Niall dari kejaran penggemar.
“Umm baiklah.. tapi sedikt saja, ya..” kataku mangalah.
Niall menggangguk dengan sinar mata yang menggambarkan kepuasan.
“Wish that we could.. Be alone now.. If we could find some place to hide.. Make the last time.. Just like the first time.. Push a button and rewind..” aku menarik nafas agak panjang lalu kembali meneruskan lirik lagu selanjutnya. “Don't say the word that's on your lips, don't look at me that way.. Just promise you'll remember when the sky is grey..” Aku memandang Niall setelah menunduk selama benyanyi.
Niall tersenyum. Memamerkan jejeran kawat gigi itu. ia menarik nafas agak berlebihan. “Cause you were mine… for the Summer.. Now we know its.. nearly over.. Feels like snow… in September.. But I always.. Will remember.. You were my…. Summer love.. You always will be my….. Summer love..” Niall melanjutkan nyanyianku. Dengan suaranya yang selalu terdengar indah bagiku. Jantungku berdegup sangat kencang. Ini kali pertama aku mendengar pria ini bernyanyi secara langsung. Walau hanya terhitung detik, namun bagiku alunan bait-bait lagu yang ia lantunkan tadi sangatlah luar biasa. Betapa beruntungnya aku!
“Ngomong-ngomong, kenapa sampai saat ini kau belum mau berpacaran seperti Harry, Zayn, Liam dan Louis?” tiba-tiba aku membahas pertanyaan yang mungkin tak terduga oleh Niall. Ia menoleh ke arahku. Menatapku dengan sepasang mata hijaunya yang lebih dari indah.
“Aku hanya sedang menunggu seseorang yang tepat..” ucapnya lalu memutar pandangan ke sekitar.
“Kau belum menemukan orang yang tepat itu?” tanyaku lagi tanpa melepas pandanganku darinya.
“Sudah..” ucapnya lalu menoleh lagi ke arahku.
Namun aku hanya menunduk. Cukup kecewa dengan jawaban itu. Sepertinya anganku untuk memiliki orang ini memang harus kukubur dalam-dalam. Tak ada lagi harapan.
“Kau sendiri?” tanya Niall pelan namun sungguh menyentakku. Aku mengangkat dagu tapi tak ingin menatapnya. “Sebenarnya aku sempat menemukan orang yang tepat.. Tapi sekarang tak ada harapan lagi. Sudahlah.. aku yakin suatu hari aku akan temukan yang lebih baik..” ucapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Niall memandangku lebih serius. Tersirat pertanyaan-pertanyaan baru di wajahnya.
“Memangnya siapa orang yang tepat yang kau maksud? Kenapa tidak kau ungkapkan saja perasaanmu padanya sehingga kau akan punya pacar.” Tanyaku cepat agar Niall tak punya kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang jawabanku tadi. Kini aku menatap Niall setelah berhasil mengontrol emosiku.
“Aku tak bisa..” jawab Niall terdengar ragu.
“Kenapa tidak?” kini aku yang menyiratkan seribu tanya yang tergambar dari dahiku yang berkerut.
“Aku hanya mengenal tulisannya, dari surat-surat yang ia tulis untukku. Belum pernah bertemu dengannya secara langsung.” Jawab Niall lagi.
Aku agak kaget. ‘surat-surat?’ Apa mungkin…??? “Maksudmu?” tanyaku sekali lagi.
“Gadis itu telah mengirim beberapa surat yang menggambarkan perasaannya untukku. Ia mengirim surat-surat itu sejak sekitar 9 bulan lalu. Tapi entah kenapa 4 bulan terakhir ini ia tak lagi mengirim satu surat pun untukku. Surat terakhirnya ia sendiri yang mengantar langsung ke rumahku di Mullinggar, ayahku yang menerima surat itu. Ayahku bilang gadis itu sangat manis dan sopan. Aku kecewa tak bisa melihatnya langsung karena saat itu aku sedang tak berada di rumah, tur di Australia. Aku sedih saat tau ia menuliskan bahwa ia tak akan mengirim surat untukku lagi. Ia tak memberi alasan apa-apa. Padahal, lewat surat itu ia berhasil membuatku jatuh cinta padanya. Sejujurnya sampai detik ini pun aku masih menunggu kiriman suratnya lagi. Tapi itu tak pernah terjadi. Claudia Clarista, gadis penulis surat itu sudah benar-benar menghilang.” jelas Niall. Benar-benar jelas. Gadis yang ia maksud adalah aku. Tapi ia tidak menyadari itu. Sama sekali tidak. Ia mengenal gadis yang duduk di sampingnya ini sebagai Clara. Akulah Claudia Clarista, Niall. Orang yang sedang berbicara denganmu saat ini yang memperkenalkan dirinya sebagai Clara karena itu nama panggilannya.
Jantungku berpacu lebih cepat, sangat cepat. Hampir hilang kendali dan mungkin bisa saja membuaku mati di sini.
“Aku jatuh cinta padanya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya. Tak peduli apakah dia mencintaiku juga atau tidak. Karena yang ku tau bahwa aku jatuh cinta, padanya. Dan tak seorangpun bisa menghalanginya. Bagiku, membaca setiap kata lagu yang ia tuliskan adalah keindahan tak terbatas.” Niall menghela nafas sekali lagi. Kata-katanya barusan membuat mataku kembali berkaca-kaca. Aku membisu. Tak bisa berkata apa-apa. Aku hampir tak percaya. Ia mencintaiku? Mencintaiku lewat surat-surat yang ku kirim untukknya? Bahkan ia masih menunggu kedatangan suratku yang berikutnya meski ia tau aku tak bisa lagi menulis isi hatiku untuknya. Ya. Surat terakhir itu memang ku antar sendiri pada ayahnya, Bobby Horan. Beberapa waktu sebelum aku ke New Yok, aku meminta ayahku untuk pergi ke Mullinggar. Hanya demi mengantar surat terakhir itu untuknya. Hanya demi kau, Niall!
“Tapi..” Niall buru-buru melanjutkan bicaranya. Padahal aku baru saja ingin mengungkapkan kebenaran bahwa aku kini di hadapannya.
“Tapi apa?” tanyaku pura-pura penasaran karena sebenarnya sudah tak sabar mengatakan jati diriku pada Niall.
“Mungkin saja aku sedang jatuh cinta lagi. Pada gadis lain, yang nyata. Bukan gadis yang ku kenali tulisannya. Aku jatuh cinta pada gadis itu sejak pandangan pertama. Aku rasa aku mulai dilemma karena aku juga tak bisa melepaskan Claudia Clarista. Aku pikir aku masih mencintainya. Aku jatuh hati pada dua gadis. Aku tau itu bodoh. Tapi entahlah..” Niall berhenti berucap. Sekaligus menghentikan niatku untuk mengungkap siapa aku sebenranya. Beberapa menit yang lalu ia membuatku semakin cinta saat mendengar suara merdunya. Lalu dimenit berikutnya membuatku rapuh karena tau ia sudah menemukan gadis yang tepat. Tapi di menit berikutnya lagi, ia membuatku jatuh cinta lagi saat ku tau gadis yang ia maksud ternyata adalah aku sendiri. Dan kini ia kembali membuatku luka, patah hati, karena ia membagi cinta itu.
Aku hanya menunduk. Suasana menjadi hening seketika. Aku terdiam karena rasa yang tak karuan ini. dominan di landa sakit namun masih cinta. Niall juga terdiam dan menunduk, mungkin karena dilemanya membuat ia kepikiran.
“Menurutmu bagaimana?” Niall kembali buka suara sambil menoleh ke arahku.
“Eh, apanya yang bagaimana?” aku balik bertanya. Cara bicaraku mulai terasa canggung. Namun aku tetap berusaha mengendalikan emosiku walau itu sangat sulit.
“Apakah aku harus tetap bertahan pada gadis penulis surat-surat itu? atau sebaiknya aku beralih pada yang pasti, gadis yang sudah pernah kutemui?” kelihatannya Niall sangat mengaharapkan pendapatku.
“Saranku, mulailah cintai gadis yang sudah pernah kau temui itu sesungguhnya. Karena gadis penulis surat itu bahkan tak kau ketahui sedikitpun tentangnya. Tapi yang paling penting, ikuti kata hatimu.” ucapku sambil berusaha mngontrol gerak bibirku yang bergetar.
“Umm.. baiklah. Terima kasih untuk saranmu,” respon Niall singkat.
“Aku harus pergi. aku ada janji sebentar lagi untuk bertemu temanku di sebuah kafe,” ucapku tiba-tiba. Menyangkal. Karena aku benar-benar hanya ingin meninggalkan tempat ini sekarang. Meninggalkannya.
Niall menoleh ke arahku. Ia terlihat bingung. Tiba-tiba saja aku ingin meninggalkannya sementara ayahnya belum juga menjemputnya. Padahal sebelumnya aku telah berjanji untuk menemaninya sampai ayahnya datang. “Umm ya.. baiklah.” Ucapnya sambil mengikutiku berdiri dari kursi taman.
“Sampai jumpa” kataku sambil terburu-buru pergi dan tak lagi menunggu sepatah kata respon dari Niall. Maafkan aku, Niall. Tapi apa yang sudah kau ceritakan itu sangat melukaiku. Aku tak ingin menangis di hadapanmu. Aku harus menyingkir darimu. Maaf..
***
Aku melangkah cepat. Tak ingin ketinggalan pesawat menuju New York yang akan kutumpangi. Terima kasih Paris. Terima kasih atas pengalaman luar biasa di sini selama 3 hari ini. Terima kasih sudah membuat ku serasa di surga saat berbelanja di Rue De Grenelle. Terima kasih atas pemandangan indah kota romantismu yang ku lihat dua hari lalu dari puncak salah satu monument favoritku, Arc De Triomphe. Terima kasih untuk segalanya selama aku berlibur di sini. Juga terima kasih atas kemegahan Eifel Tower yang menggodaku untuk membuat harapan tentang cinta saat aku berada di puncaknya. Harapan untuk memiliki satu orang yang selalu mengisi hatiku. Satu oarng yang membuatku jatuh padanya sejak kali pertama aku melihat senyumnya, mendengar suaranya. Satu orang yang juga telah membuatku luka karenanya. Terima kasih terbesar atas kenangan aku dan dia yang bertemu kemudian berpisah di kota ini dalam waktu sesaat. Aku harap aku tak akan memendam sakit hati padamu, Paris. Karena kisah cinta yang menyakitkan itu bukan salahmu. Kau hanya saksi.
Aku tetap menyeret koperku. Dengan langkah galau. Diantara kesibukan masing-masing manusia di bandara ini. Meniti langkah sambil berusaha melupakan kejadian tadi siang. Kejadian yang sama sekali ingin kuhapus dari memori kepalaku, bahkan aku ingin mengulang waktu dan tak harus bertemu denganya, Niall Horan.
Seseorang meraih pergelangan tangan kiriku. Tiba-tiba mengejutkanku. Membuatku refleks menoleh ke arahnya. Dia.. Niall! Apa yang ia lakukan di sini? Baik. dia memang sudah tau aku akan kembali ke New York malam ini. Tadi siang sudah kuceritakan padanya. Tapi apa tujuannya kemari? Tiba-tiba mendatangiku. Tanpa diduga menggenggam tanganku dan menatapku lekat dengan sinar mata penghipnotisnya.
“Tolong jangan pergi.”ucapnya dengan nada bergetar, lalu memelukkku, erat. Aku membeku dalam pelukkannya. Shocked. “aku mohon jangan pergi, aku mencintaimu,” ucapnya lagi. Aku semakin terkejut, juga semakin membeku meski ia kini melepas pelukannya kemudian menatapku lebih dalam dari sebelumnya, dengan sepasang mata yang bagiku lebih dari indah.
“Apa maksudmu?” tanyaku dengan berbagai macam perasaan yang mnyelimuti benakku. Nada suaraku tak kalah bergetar. Bisa ku dengar detak jantungku sendiri.
“Aku mencintaimu. Sekarang ku tau cintaku padamu tak terbatas. Karena kau adalah Claudia Clarista, gadis penulis surat itu. Dan sesungguhnya kau pula lah gadis yang ku katakan telah membuatku membagi hatiku. Kau adalah gadis yang mampu membuatku jatuh cinta saat pertama aku melihatmu. Kau adalah gadis yang ku maksud siang tadi, Clara.” jawab Niall tegas. Guratan wajahnya menunjukan ia sungguh-sungguh.
Aku membisu. Ucapannya membuatku shocked sekali lagi. Tapi aku tak ingin kembali membeku bodoh. Aku memeluknya. Sama eratnya bahkan lebih erat dari pelukannya tadi. Niall mendekap hangat tubuhku. Membuatku air mataku tak tebendung mengalir dipipi lalu menetes di jaket abu-abu yang ia kenakan.
Aku mengendalikan emosi bahagiaku yang meluap-luap. Melepaskan dekapan ini. Aku dan Niall saling bertatapan. Mata itu selalu membuat cintaku untuknya terus bertambah.
“Tapi.. bagaimana kau tau adalah gadis penulis surat itu?” tanyaku sambil menyapu air mata.
Niall menyingkirkan rambutku yang sedikit menghalangi wajahku. “Tadi sore aku menunjukkan foto kita berdua yang diambil sebelum kita ke Musee Rodin pada ayah. Ayah bilang ia mengenal gadis di foto itu. gadis yang mengirim surat-surat padaku adalah gadis itu. kau adalah gadis itu.”
Aku tersenyum lebar. Menunjukan rasa bahagia yang lebih dari kata. “Aku juga mencintaimu. Kau adalah orang yang tepat yang ku maksud, yang ku nanti..”
Niall mendekapku sekali lagi aku tak bisa menahan bahagia ini. Terima kasih Paris. Hari ini kau menjadi saksi awal kisah cinta kami. Kisah cinta yang selalu mengukir kebahagiaan tak terbatas.
~The_End~


