Minggu, 26 Mei 2013

Kebahagiaan Tak Terbatas

        Tok tok tok
            Seseorang mengetuk pintu kamarku. Kemudian memutar kenopnya lalu masuk ke kamar meski belum kupersilahkan. Ia menghampiriku yang masih berkutat di depan laptop yang berwarna dominan biru. Terdengar lagu favoritku, Summer Love milik One Direction dimainkan di MP3. Laki-laki muda yang baru saja masuk ke kamar ini menyentuh bahuku.
            “Mengedit foto-foto mereka lagi?”  tanya laki-laki yang usainya 3 tahun lebih tua dariku itu.
            Aku menoleh ke arahanya. “Ayolah Steven, apa masalahmu? Aku hanya iseng.”  Wajahku pun berubah ke mimik manja.
            Steven tersenyum sejenak lalu membelai rambutku, terasa penuh kasih sayang.  “Kau bahkan belum pernah bertemu mereka ‘kan?” Tanya kakak semata wayangku ini lantas beranjak menuju ke ranjang dengan spray merah muda disamping meja belajar, lalu berbaring namun tetap memperhatikanku.
            “Apa salahnya? Aku mengidolakan mereka. Teutama yang berambut pirang ini. bagaimana menurutmu?” tanyaku tentang pendapat Steven.
            Kini Steven duduk lalu memandang ke layar monitor laptop yang ku tunjuk. Mengerutkan dahinya sejenak saat memperhatikan gambar seorang remaja laki-laki yang berpose bersama 4 temannya. “Tampan. Tapi apa kau yakin mereka benar-benar bertalenta? Yang aku tau, banyak boyband atau grup musik dan penyanyi yang hanya memanfaatkan penampilan fisik mereka yang menarik untuk mengait penggemar, khususnya remaja perempuan sepertimu. Rata-rata mereka tak menghiraukan lagi talenta dalam bermusik.” Komentar Steven.
            “Aku sudah menyarankanmu untuk mendengarkan lagu-lagu mereka ‘kan? Maka kau akan tau bahwa One Direction juga punya kualitas.” Responku sembari kembali sibuk pada laptopku.
            “Ya ya ya.. baiklah.. terserah kau saja. Ini sudah larut malam. Segeralah tidur.” Kata Steven mengalah lalu beranjak dari ranjangku, kemudian menghampiriku sekali lagi dan mencium ubun-ubunku. Aku menatapnya dengan kasih sayang yang ku punya. Tersenyum tulus pada saudara kesayangan yang selalu perhatian padaku ini.
            Steven keluar dari kamarku setelah tersenyum lebar sebagai ucapan selamat malam untukku. Punggungnya menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup. Ku edarkan pandanganku. Lalu terhenti pada satu sisi dinding kamarku. Fokus pada sebuah poster yang tertempel di sana. Selembar poster yang selalu berhasil menarik perhatian lebihku di banding poster-poster lainnya. Tersenyum kecil padanya walau ku tau itu hanya selembar kertas bergambar manusia.
            Aku kembali beralih pada meja belajar. Terdengar decitan kecil saat ku buka lacinya. Mengambil sebuah binder biru dan sebuah bolpoin bertinta hijau mengkilap lalu meletakkannya di atas meja.
            Aku mulai menulis, sebuah surat dengan isi ungkapan perasaanku yang sejujurnya tak cukup hanya tertuang dalam kalimat. Kata demi kata mulai terangkai. Membuatku tersenyum sesaat. Puas dengan kata demi kata karangan perasaanku yang indah tertulis di atas kertas.


            07 Januari 2012

            Hi Niall.
            Akhirnya kuputuskan menulis surat ini untukmu. Mungkin ini akan menjadi surat pertama dariku. Entah ini akan bertahan sampai nanti atau tidak, yang jelas aku hanya tau bahwa aku sedang jatuh cinta padamu, semua tentangmu, bahkan hal-hal kecil yang ada padamu. Aku tau aku bahkan belum pernah bertemu denganmu. Tapi aku rasa aku mengenalmu cukup baik. Aku tau tentangmu sejak kau muncul di halaman majalaha-majalah favoritku. Senyumanmu yang termuat di sana telah berhasil mebuatku jatuh hati padamu. Dan rasa itu semakin hari semakin besar. Aku belum begitu yakin dengan perasaan apa yang kualami saat ini. Aku bahkan tak tau apakah ini akan terus berlanjut atau justru akan menghilang seiring berjalannya waktu.
            Terima kasih telah membuat hari-hariku semakin sempurna. Terutama akhir-akhir ini, aku terus memikirkanmu. Kapanpun, dimanapun. Aku tidak ingin mengehentikan itu. Tidak ingin mengehentikan bayanganmu yang selalu melintas dihadapanku.
            Aku tersenyum, aku tertawa. Tidak pernah kurasakan semangat yang lebih dari sebelumnya. Aku benar yakin. Seakan-akan kau adalah alasan mengapa aku selalu berusah melakukan yang terbaik. Seakan-akan hanya kau lah satu-satunya hal yang yang terbaik dari yang terbaik.
            Aku harap suatu hari kita bisa bertemu. Terkadang, aku merasa bahwa mimpiku tentangmu terasa begitu jauh. Seperti tak mungkin tercapai. Tapi aku percaya, tak ada yang tak mungkin. Siapa tau aku akan berjumpa denganmu suatu hari nanti. Selama cinta ini masih ku miliki, aku tak ingin hilang harapan agar kau dapat kumiliki.

          Dengan tulus,

          Claudia Clarista


           Selesai. Aku telah menyelasaikan surat ini. Tekadku sudah bulat unutk mengirimnya besok melalui jasa pos agar sampai ke Mullingar, Irlandia nan jauh di sana. Ak telah mendapat alamat rumah Niall Horan  di kampong halamannya dai seorang eman sesam directioner asal amerika yang telah berbaik hati membagi informasi itu padaku.
           Meski nantinya surat ini mungkin akan lebih dulu sampai ke ayahnya, atau bahkan bias tak terbaca oleh orang yang kumaksud karena kesibukkannya, namun aku akan tetap menyampaikannya. Menyampaikan perasaanku tentang niall Horan. Seorang idola yang berhasil mencuri jatiku, yang selalu ku kagumi, dan sangat ingin kujumpai.
           Aku jatuh cinta padanya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya. Tak peduli apakah dia mencintaiku juga atau tidak. Karena yang ku tau aku jatuh cinta, padanya. Dan tak seorangpun bisa menghalanginya. Bagiku, mendengar setiap bait lagu yang ia nyanyikan adalah keindahan tak terbatas.
***
            Dengan berat hati, kulepas poster ini satu persatu dari dinding kamarku. Kamar yang nantinya tak lagi akan ku huni. Kini aku terpaku pada satu poster lagi yang tersisa. Poster yang menurutku paling berarti dibanding poster-poster yang lain. Poster yang entah bagaimana mampu memberi semangat lebih dan bisa membuatku tersenyum setiap hari. Poster yang memajang gambar seorang remaja pirang. Personil One Direction favoritku, Niall Horan.
            Airmataku menetes. Karena alasan yang lebih memilukan dari pada melepas poster ini. Steven telah meninggal 3 minggu lalu. Kanker hati ganas yang ia rahasiakan dariku telah membuatnya pergi. Meninggalkan dunia, meningalkanku. Aku kembali teringat dengan surat dari Steven yang kutemukan dilaci kabinet kamarnya sehari setelah kepergiannya. Surat yang ternyata untukku. Surat dengan pesan agar aku meneruskan amanahnya. Bahwa ia ingin aku melanjutkan kuliah ke sebuah universitas tempat ia pernah menimba ilmu, di New York. Ia juga memintaku untuk lebih fokus pada pendidikanku dan berharap agar aku sebaiknya meninggalkan hal-hal kekanak-kanakan yang terkadang mencabangkan pikiranku. Termasuk tentang idolaku.
***
            Masih musim panas di Paris. Ini hari terakhir aku menikmati liburan di kota mode ini, sebelum malam nanti aku akan kembali ke New York. Sudah beberapa tempat terkenal di sini habis kukunjungi demi memenuhi hasrat travelling-ku. Kini aku berada di sebuah bistro, semacam restoran kecil yang menyajikan masakan-masakan Indonesia. Satu diantara daftar tempat yang ingin kukunjungi namun belum berkesampatan sejak 3 hari lalu di sini. Sangat jarang ditemukan tempat semacam ini di kota sebesar Paris.
            Ku lihat sekeliling, suasananya sangat Indonesia. Bahkan beberapa pengunjungnya juga orang Indonesia, sama sepertiku. Beberapa jenis makanan masing-masing 1 porsi yang kupesan kira-kira 5 menit lalu kini sudah tersaji di hadapanku. Aku siap menyantapnya.
            Namun belum saja ku sentuh nasi putih di atas piringku, tiba-tiba seseorang duduk di hadapanku. Mengejutkanku! Aku tau siapa orang ini. Aku tau siapa dia. Orang ini.. orang ini adalah Niall Horan!
            DEG. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku melongo di hadapanya. Namun ia justru terlihat tengah mengatur nafas, seperti baru saja terburu-buru kemari dan membuat nafasnya satu-satu. Apa ini mimpi? Diam-diam aku mencubit lengan kiriku. Sakit. Ini bukanlah mimpi. kehadiran malaikat ini nyata. Tapi apa yang ia lakukan di sini? Sendiri? Mengapa tiba-tiba ia duduk dihadapanku seperti malaikat yang tiba-tiba menghampiriku.
            Niall mulai menemukan kembali nafasnya yang teratur. Ia melihat-lihat ke pintu distro dengan wajah khawatir. Bibirku masih kaku. Ingin sekali mengeluarkan banyak pertanyaan tapi pria ini seolah telah membekukanku dengan kehadirannya yang tanpa terduga. Seperti aku tengah berada di surga.
            Niall menoleh padaku. “Hi,” sapanya canggung. Aku masih belum bisa berkata-kata. Hanya dapat tersenyum kecil dan itu pun masih kaku.
            Niall tersenyum. “Maaf aku tiba-tiba di sini. Aku dalam keadaan darurat,” ucapnya.
            “A-Apa maksudmu?” kini aku menemukan kembali suaraku.
            “Tadinya aku tersesat. Lalu di kejar-kejar beberapa gadis. Karena aku melihat ada bistro kecil dan tak begitu ramai ini, jadi aku ke sini untuk menghindari mereka,” jawabnya masih dengan mimik yang was-was.
            Tak sepatah katapun keluar dari mulutku untuk merespon perkataanya. Aku kembali melongo. Jelas saja ia di kejar-kejar. Ia bintang besar. Belakangan ku dengar nama boyband yang ia gawangi bersama 4 temannya itu memang semakin dikenal dunia. Lebih terkenal dibanding 1 tahun lalu, waktu dimana awal-awal aku mengidolakan mereka, One Direction.
            Niall melambaikan tangannya di depan wajahku. Meyadarkanku dari hipnotis kehadirannya. Aku kembali tersenyum kaku. “Eh, lalu? Lalu, lalu apa yang kau lakukan di Paris? Tur? Terpisah dari teman-temanmu lalu tersesat dan gadis-gadis itu menemukanmu?” kini kata-kata mulai lancar mengalir lewat bibirku.
            Niall kembali tersenyum. Membuatku terhipnotis lagi, walau hanya sesaat hingga senyum itu pudar berganti gumam. “Tidak. Aku sedang berlibur di Paris bersama ayahku. Tidak ada jadwal tur One Direction hingga 2 hari kedepan. Jadi aku ingin menyegarkan raga dari lelah. Hey. Ternyata kau mengenalku ya?”
            “Tentu saja. Semua orang pasti tau One Direction dan para personilnya. Aku tidak tinggal di bawah batu. Aku bahkan pernah sangat mengidolakanmu,” jawabku. Mengabaikaan makanan-makanan di meja ini.
            “Pernah?” dahinya berkerut.
            “Umm ya. Seharusnya kau tau kau harus di kawal kemanapun karena hampir setiap orang mengenalmu. Terutama para gadis.”
            Niall mengabaikan pertanyaanku sebentar. Memanggil pelayan dan memesan beberapa jenis makanan khas Paris yang ia tau yang tersedia di sini. Setelah itu ia kembali memperhatikanku. “Aku hanya ingin menikmati liburan sama seperti remaja lainnya. Tanpa dikawal.” Niall memperhatikan makanan-makanan di atas meja yang mungkin asing di matanya. Lantas kembali memandangku. Aku terhipnotis lagi karena tatapannya. Cepat-cepat kusadarkan diri sendiri.
            “Tadi kau bilang kau ‘pernah’ mengidolakan One Direction? Lalu itu artinya kau bukan directioner lagi?”
            Aku tersenyum kecil. Menyukai wajah penasaran Niall yang tanpa ia sadari ia terlihat semakin menarik. “Ya. Sejujurnya bertemu denganmu di sini bisa saja membuatku berteriak semauku. Aku masih mengagumi kalian. Tapi tak sefanatik dulu.”
            “Kenapa? Apa musik kami semakin buruk bagimu?” Dahi Niall semakin berkerut. Membuatku kembali kalah mengontrol senyumku.
            “Tidak. Musik kalian justru semakin baik. Tapi aku harus menghilangkan virus-virus One Direction infection kalian yang bisa memecah fokusku. Kakakku yang meninggal 5 bulan lalu memintaku untuk benar-banar fokus pada kuliahu, di New York.”
            Niall tertawa kecil, menggemaskan. Mungkin sedikit geli saat ku bilang ‘One Direction Infection’. Namun saat ku ungkap kepergian kakakku wajahnya langsung berubah sedikit sendu.
***
            “Ayolah Clara.. nyanyikan sedikit saja lirik lagu One Direction yang kau tau,” Niall terus memaksaku untuk bernyanyi. Cara bicaranya semakin terasa akrab meski kami baru bertemu sekitar 1 jam yang lalu. Kini kami duduk di sebuah kursi taman yang ada di Musse Rodin, museum yang tak begitu terkenal di banding Musee Louvre di Paris. Tempat ini menjadi tujuan kami untuk menghabiskan waktu hanya berdua setelah Niall memintaku menemaninya beberapa jam sambil menunggu ayahnya menyusul ia yang tersasar. Sengaja kami pergi ke sini karena yang kami tau museum adalah tempat yang biasanya sepi pengunjung remaja. Hanya  ingin menghindarkan Niall dari kejaran penggemar.
            “Umm baiklah.. tapi sedikt saja, ya..” kataku mangalah.
Niall menggangguk dengan sinar mata yang menggambarkan kepuasan.
            “Wish that we could.. Be alone now.. If we could find some place to hide.. Make the last time.. Just like the first time.. Push a button and rewind..” aku menarik nafas agak panjang lalu kembali meneruskan lirik lagu selanjutnya. “Don't say the word that's on your lips, don't look at me that way.. Just promise you'll remember when the sky is grey..” Aku memandang Niall setelah menunduk selama benyanyi.
            Niall tersenyum. Memamerkan jejeran kawat gigi itu. ia menarik nafas agak berlebihan. “Cause you were mine… for the Summer.. Now we know its.. nearly over.. Feels like snow… in September.. But I always.. Will remember.. You were my…. Summer love.. You always will be my….. Summer love..” Niall melanjutkan nyanyianku. Dengan suaranya yang selalu terdengar indah bagiku. Jantungku berdegup sangat kencang. Ini kali pertama aku mendengar pria ini bernyanyi secara langsung. Walau hanya terhitung detik, namun bagiku alunan bait-bait lagu yang ia lantunkan tadi sangatlah luar biasa. Betapa beruntungnya aku!
            “Ngomong-ngomong, kenapa sampai saat ini kau belum mau berpacaran seperti Harry, Zayn, Liam dan Louis?” tiba-tiba aku membahas pertanyaan yang mungkin tak terduga oleh Niall. Ia menoleh ke arahku. Menatapku dengan sepasang mata hijaunya yang lebih dari indah.
            “Aku hanya sedang menunggu seseorang yang tepat..” ucapnya lalu memutar pandangan ke sekitar.
            “Kau belum menemukan orang yang tepat itu?” tanyaku lagi tanpa melepas pandanganku darinya.
            “Sudah..” ucapnya lalu menoleh lagi ke arahku.
            Namun aku hanya menunduk. Cukup kecewa dengan jawaban itu. Sepertinya anganku untuk memiliki orang ini memang harus kukubur dalam-dalam. Tak ada lagi harapan.
            “Kau sendiri?” tanya Niall pelan namun sungguh menyentakku. Aku mengangkat dagu tapi tak ingin menatapnya. “Sebenarnya aku sempat menemukan orang yang tepat.. Tapi sekarang tak ada harapan lagi. Sudahlah.. aku yakin suatu hari aku akan temukan yang lebih baik..” ucapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
            Niall memandangku lebih serius. Tersirat pertanyaan-pertanyaan baru di wajahnya.
            “Memangnya siapa orang yang tepat yang kau maksud? Kenapa tidak kau ungkapkan saja perasaanmu padanya sehingga kau akan punya pacar.” Tanyaku cepat agar Niall tak punya kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang jawabanku tadi. Kini aku menatap Niall setelah berhasil mengontrol emosiku.
            “Aku tak bisa..” jawab Niall terdengar ragu.
            “Kenapa tidak?” kini aku yang menyiratkan seribu tanya yang tergambar dari dahiku yang berkerut.
            “Aku hanya mengenal tulisannya, dari surat-surat yang ia tulis untukku. Belum pernah bertemu dengannya secara langsung.” Jawab Niall lagi.
            Aku agak kaget. ‘surat-surat?’ Apa mungkin…??? “Maksudmu?” tanyaku sekali lagi.
            “Gadis itu telah mengirim beberapa surat yang menggambarkan perasaannya untukku. Ia mengirim surat-surat itu sejak sekitar 9 bulan lalu. Tapi entah kenapa 4 bulan terakhir ini ia tak lagi mengirim satu surat pun untukku. Surat terakhirnya ia sendiri yang mengantar langsung ke rumahku di Mullinggar, ayahku yang menerima surat itu. Ayahku bilang gadis itu sangat manis dan sopan. Aku kecewa tak bisa melihatnya langsung karena saat itu aku sedang tak berada di rumah, tur di Australia. Aku sedih  saat tau ia menuliskan bahwa ia tak akan mengirim surat untukku lagi. Ia tak memberi alasan apa-apa. Padahal, lewat surat itu ia berhasil membuatku jatuh cinta padanya. Sejujurnya sampai detik ini pun aku masih menunggu kiriman suratnya lagi. Tapi itu tak pernah terjadi. Claudia Clarista, gadis penulis surat itu sudah benar-benar menghilang.” jelas Niall. Benar-benar jelas. Gadis yang ia maksud adalah aku. Tapi ia tidak menyadari itu. Sama sekali tidak. Ia mengenal gadis yang duduk di sampingnya ini sebagai Clara. Akulah Claudia Clarista, Niall. Orang yang sedang berbicara denganmu saat ini yang memperkenalkan dirinya sebagai Clara karena itu nama panggilannya.
           Jantungku berpacu lebih cepat, sangat cepat. Hampir hilang kendali dan mungkin bisa saja membuaku mati di sini.
           “Aku jatuh cinta padanya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya. Tak peduli apakah dia mencintaiku juga atau tidak. Karena yang ku tau bahwa aku jatuh cinta, padanya. Dan tak seorangpun bisa menghalanginya. Bagiku, membaca setiap kata lagu yang ia tuliskan adalah keindahan tak terbatas.” Niall menghela nafas sekali lagi. Kata-katanya barusan membuat mataku kembali berkaca-kaca. Aku membisu. Tak bisa berkata apa-apa. Aku hampir tak percaya. Ia mencintaiku? Mencintaiku lewat surat-surat yang ku kirim untukknya? Bahkan ia masih menunggu kedatangan suratku yang berikutnya meski ia tau aku tak bisa lagi menulis isi hatiku untuknya. Ya. Surat terakhir itu memang ku antar sendiri pada ayahnya, Bobby Horan. Beberapa waktu sebelum aku ke New Yok, aku meminta ayahku untuk pergi ke Mullinggar. Hanya demi mengantar surat terakhir itu untuknya. Hanya demi kau, Niall!
            “Tapi..” Niall buru-buru melanjutkan bicaranya. Padahal aku baru saja ingin mengungkapkan kebenaran bahwa aku kini di hadapannya.
            “Tapi apa?” tanyaku pura-pura penasaran karena sebenarnya sudah tak sabar mengatakan jati diriku pada Niall.
            “Mungkin saja aku sedang jatuh cinta lagi. Pada gadis lain, yang nyata. Bukan gadis yang ku kenali tulisannya. Aku jatuh cinta pada gadis itu sejak pandangan pertama. Aku rasa aku mulai dilemma karena aku juga tak bisa melepaskan Claudia Clarista. Aku pikir aku masih mencintainya. Aku jatuh hati pada dua gadis. Aku tau itu bodoh. Tapi entahlah..” Niall berhenti berucap. Sekaligus menghentikan niatku untuk mengungkap siapa aku sebenranya. Beberapa menit yang lalu ia membuatku semakin cinta saat mendengar suara merdunya. Lalu dimenit berikutnya membuatku rapuh karena tau ia sudah menemukan gadis yang tepat. Tapi di menit berikutnya lagi, ia membuatku jatuh cinta lagi saat ku tau gadis yang ia maksud ternyata adalah aku sendiri. Dan kini ia kembali membuatku luka, patah hati, karena ia membagi cinta itu.
            Aku hanya menunduk. Suasana menjadi hening seketika. Aku terdiam karena rasa yang tak karuan ini. dominan di landa sakit namun masih cinta. Niall juga terdiam dan menunduk, mungkin karena dilemanya membuat ia kepikiran.
            “Menurutmu bagaimana?” Niall kembali buka suara sambil menoleh ke arahku.
            “Eh, apanya yang bagaimana?” aku balik bertanya. Cara bicaraku mulai terasa canggung. Namun aku tetap berusaha mengendalikan emosiku walau itu sangat sulit.
            “Apakah aku harus tetap bertahan pada gadis penulis surat-surat itu? atau sebaiknya aku beralih pada yang pasti, gadis yang sudah pernah kutemui?” kelihatannya Niall sangat mengaharapkan pendapatku.
            “Saranku, mulailah cintai gadis yang sudah pernah kau temui itu sesungguhnya. Karena gadis penulis surat itu bahkan tak kau ketahui sedikitpun tentangnya. Tapi yang paling penting, ikuti kata hatimu.” ucapku sambil berusaha mngontrol gerak bibirku yang bergetar.
            “Umm.. baiklah. Terima kasih untuk saranmu,” respon Niall singkat.
            “Aku harus pergi. aku ada janji sebentar lagi untuk bertemu temanku di sebuah kafe,” ucapku tiba-tiba. Menyangkal. Karena aku benar-benar hanya ingin meninggalkan tempat ini sekarang. Meninggalkannya.
            Niall menoleh ke arahku. Ia terlihat bingung. Tiba-tiba saja aku ingin meninggalkannya sementara ayahnya belum juga menjemputnya. Padahal sebelumnya aku telah berjanji untuk menemaninya sampai ayahnya datang. “Umm ya.. baiklah.” Ucapnya sambil mengikutiku berdiri dari kursi taman.
            “Sampai jumpa” kataku sambil terburu-buru pergi dan tak lagi menunggu sepatah kata respon dari Niall. Maafkan aku, Niall. Tapi apa yang sudah kau ceritakan itu sangat melukaiku. Aku tak ingin menangis di hadapanmu. Aku harus menyingkir darimu. Maaf..
***
            Aku melangkah cepat. Tak ingin ketinggalan  pesawat menuju New York yang akan kutumpangi. Terima kasih Paris. Terima kasih atas pengalaman luar biasa di sini selama 3 hari ini. Terima kasih sudah membuat ku serasa di surga saat berbelanja di Rue De Grenelle. Terima kasih atas pemandangan indah kota romantismu yang ku lihat dua hari lalu dari puncak salah satu monument favoritku, Arc De Triomphe. Terima kasih untuk segalanya selama aku berlibur di sini. Juga terima kasih atas kemegahan Eifel Tower yang menggodaku untuk membuat harapan tentang cinta saat aku berada di puncaknya. Harapan untuk memiliki satu orang yang selalu mengisi hatiku. Satu oarng yang membuatku jatuh padanya sejak kali pertama aku melihat senyumnya, mendengar suaranya. Satu orang yang juga telah membuatku luka karenanya. Terima kasih terbesar atas kenangan aku dan dia yang bertemu kemudian berpisah di kota ini dalam waktu sesaat. Aku harap aku tak akan memendam sakit hati padamu, Paris. Karena kisah cinta yang menyakitkan itu bukan salahmu. Kau hanya saksi.
            Aku tetap menyeret koperku. Dengan langkah galau. Diantara kesibukan masing-masing manusia di bandara ini. Meniti langkah sambil berusaha melupakan kejadian tadi siang. Kejadian yang sama sekali ingin kuhapus dari memori kepalaku, bahkan aku ingin mengulang waktu dan tak harus bertemu denganya, Niall Horan.
            Seseorang meraih pergelangan tangan kiriku. Tiba-tiba mengejutkanku. Membuatku refleks menoleh ke arahnya. Dia.. Niall! Apa yang ia lakukan di sini? Baik. dia memang sudah tau aku akan kembali ke New York malam ini. Tadi siang sudah kuceritakan padanya. Tapi apa tujuannya kemari? Tiba-tiba mendatangiku. Tanpa diduga menggenggam tanganku dan menatapku lekat dengan sinar mata penghipnotisnya.
            “Tolong jangan pergi.”ucapnya dengan nada bergetar, lalu memelukkku, erat. Aku membeku dalam pelukkannya. Shocked. “aku mohon jangan pergi, aku mencintaimu,” ucapnya lagi. Aku semakin terkejut, juga semakin membeku meski ia kini melepas pelukannya kemudian menatapku lebih dalam dari sebelumnya, dengan sepasang mata yang bagiku lebih dari indah.
            “Apa maksudmu?” tanyaku dengan berbagai macam perasaan yang mnyelimuti benakku. Nada suaraku tak kalah bergetar. Bisa ku dengar detak jantungku sendiri.
            “Aku mencintaimu. Sekarang ku tau cintaku padamu tak terbatas. Karena kau adalah Claudia Clarista, gadis penulis surat itu. Dan sesungguhnya kau pula lah gadis yang ku katakan telah membuatku membagi hatiku. Kau adalah gadis yang mampu membuatku jatuh cinta saat pertama aku melihatmu. Kau adalah gadis yang ku maksud siang tadi, Clara.” jawab Niall tegas. Guratan wajahnya menunjukan ia sungguh-sungguh.
            Aku membisu. Ucapannya membuatku shocked sekali lagi. Tapi aku tak ingin kembali membeku bodoh. Aku memeluknya. Sama eratnya bahkan lebih erat dari pelukannya tadi. Niall mendekap hangat tubuhku. Membuatku air mataku tak tebendung mengalir dipipi lalu menetes di jaket abu-abu yang ia kenakan.
            Aku mengendalikan emosi bahagiaku yang meluap-luap. Melepaskan dekapan ini. Aku dan Niall saling bertatapan. Mata itu selalu membuat cintaku untuknya terus bertambah.
            “Tapi.. bagaimana kau tau adalah gadis penulis surat itu?” tanyaku sambil menyapu air mata.
            Niall menyingkirkan rambutku yang sedikit menghalangi wajahku. “Tadi sore aku menunjukkan foto kita berdua yang diambil sebelum kita ke Musee Rodin pada ayah. Ayah bilang ia mengenal gadis di foto itu. gadis yang mengirim surat-surat padaku adalah gadis itu. kau adalah gadis itu.”
            Aku tersenyum lebar. Menunjukan rasa bahagia yang lebih dari kata. “Aku juga mencintaimu. Kau adalah orang yang tepat yang ku maksud, yang ku nanti..”
            Niall mendekapku sekali lagi aku tak bisa menahan bahagia ini. Terima kasih Paris. Hari ini kau menjadi saksi awal kisah cinta kami. Kisah cinta yang selalu mengukir kebahagiaan tak terbatas.

~The_End~

Dia Bukan Untukku

yang mau baca silahkan baca yang gamau gausah banyak komentar yah:) jangan lupa di like:D

"Dia Bukan Untukku"

Awal masuk sekolah pasti ada MOS yaitu Masa Orientasi Siswa. Aku menginjak ke SMP, bersama teman-teman SD ku dulu aku berkumpul dan membicarakan tentang MOS. “Gadis…,” begitu teman-teman memanggilku. “teman-teman,” kataku menghampiri mereka. “kamu gugus mana?” tanya Vhe, temanku. “ini aku cari-cari namaku gak ketemu-ketemu,” kataku mengusap keringat yang membasahi wajahku. “ya udah kita cari sama-sama yuk,” ajak Ze, temenku. Kami bertiga mencari namaku yang semenjak tadi tak ketemu-ketemu. “Gadis, sini deh,” kata Ze memanggilku. “ada namaku?” tanyaku penasaran. “ini nih kita satu gugus, Gadis Grittenatha Gladia, Zeazahra Modhyantias, Vhealovin Jhuastian,” kata Ze membaca nama kita bertiga. “wah, hebat kau Ze. Dari tadi aku cari-cari gak ketemu,” kataku memuji Ze. “ya udah kita masuk yuk,” ajak Vhe.
Hari pertama MOS itu sangat membosankan bagiku. Apa lagi harus berpanas-panasan untuk upacara pembukaan MOS. Banyak korban pingsan di lapangan sekolah itu. Tenggorokanku mulai kering dan sungguh membuat kepalaku menjadi pusing. Tak lama, aku merasa sudah tak berdaya dan jatuh pingsan. Tak lama aku membuka kedua mataku dan ternyata aku berada di UKS sekolah. Bersama anggota PMR yang menjadi kakak kelasku waktu itu. Aku masih lemas untuk beranjak dari tempat tidur. Dua sahabatku datang menjengukku. Dan aku di tuntutnya untuk berjalan menuju kelas.
Sampai di kelas aku menerima materi awal-awal perkenalan. Kutatap wajah seorang cowok yang berada di seberang mejaku saat itu. Sebelum materi di mulai, absensi siswa MOS saat itu di percepat. Berpasang-pasangan. Dan tak kusangka namaku dipanggil dan cowok yang berada di sampingku tadi juga maju dan ternyata dia bernama Arezaldhi Birasanjaya. Setelah tanda tangan kehadiran, kami kembali ke tempat duduk semula.
Materi pembelajaran untuk jam pertama sudah usai saatnya istirahat. Aku, Vhe, dan Ze menyergap kantin sekolah dan berdesak-desakan. Dan kulihat lagi cowok yang mempunyai nama Arezaldhi Birasanjaya sedang asyiknya ngobrol dengan teman barunya di depan kelas. Sepertinya aku merasakan yang namanya cinta pada pandangan pertama. Sudah 15 menit waktu untuk istirahat. Waktunya masuk kembali untuk bermain dan belajar.
MOS sudah berjalan tiga hari. Hari ini adalah hari terakhir MOS. Dengan aturan hari ini, aku memakai kaos kaki berbeda warna, dengan rambut yang di kucir sangat banyak seperti orang gila. Semua murid MOS mengikuti upacara penutupan MOS. Hari yang panas. Terasa seperti di panggang. Banyak korban pingsan di lapangan itu. Akhirnya upacara penutupan MOS dipercepat.
***
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Bisa bertemu banyak teman baru. Mereka semua baik kepadaku. Saat aku berkenalan dengan salah satu temanku yang bernama Algea Radista, mataku teralihkan oleh satu sosok yang mungkin pernah aku kenal. Saat ku tatap pekat wajahnya ternyata dialah Arezaldhi Birasanjaya. “Dia kan,” gumamku dalam hati. “halo?Kenapa melongo gitu Dis?” tanya Gea sambil melambai-lambaikan tanganya di depan wajahku. “emm,” aku tersentak olehnya. “kenapa?” tanya Gea penasaran. “oh, ga… gak pa… papa,” kataku gagap. Gea memandangiku dengan wajah bingung. Seperti otaknya penuh dengan tanda tanya. “Gadis…,” sapa Ze dan Vhe. “ehh kalian,” kataku memandang Ve dan Zhe. Vhe dan Ze tersenyum manis kepada Gea. “ini Gea,” kataku memperkenalkan. “aku Vhe,” kata Vhe memperkenalkan dirinya. “aku Ze,” kata Ze juga memperkenalkan dirinya. “so beautiful,” kata Vhe memuji kecantikan Gea. “thank you very much,” kata Gea menjawab pujian Vhe dengan malu.
Aku, Vhe, Ze, dan Gea sudah berteman sangat lama. Sudah lima bulan aku masuk di kelas 7 C. Bersama-sama dengan ketiga sahabatku itu. Tiba-tiba perbincanganku tersentak oleh sosok cowok yang memasuki kelasku. Dia…… Dia…… “Dis, kenapa melongo?” gertak Ze. “eemm, eh, eng… enggak papa,” kataku gugup. “kenapa sih?” tanya Gea. “iya, pelit banget gak mau ngasih tau,” tanya Vhe semakin mendesak. Mereka bertiga melihatku memandangi Arezaldhi sejak tadi. “oo, itu toh yang buat kamu melongo,” ucap Gea menggentakkan jantungku. “siapa, mana?” kataku bertanya-tanya dengan ragu. “itu tuh,” kata Gea menyenggol lenganku dan melirik Arezaldhi. “apaan?”. “sok gak tau nih,” gertak Gea lagi. Aku semakin salah tingkah dibuatnya. Sosok cowok itu pun pergi meninggalkan kelasku. “siapa emangnya?” tanya Vhe dan Ze bersamaan. “Arezaldhi,” kata Gea. “kamu suka ya Dis?” tanya Ze ingin tau. “sok tau kamu Ge,” kataku. “uhuui, jatoh ci’inta agi,” ledek Ze. “apaan sih kalian?” kataku meninggalkan mereka bertiga yang semakin meledekku.
Suatu hari acara ulang tahun sekolahku. Setiap kelas harus menampilkan minimal satu pementasan. Semua teman kelasku memilihku untuk menyanyi solo. Tapi aku seorang remaja yang demam panggung. Dan aku pun ditemani oleh Gea yang suaranya lumayan bagus walaupun nggak sebagus suaraku… hehehe J. Malam ulang tahun itu tiba yang memang bertepatan dengan hari ulang tahunku. “grogi aku Ge,” kataku sambil gemeteran. “enjoy saja Dis,” kata Gea memberiku semangat. “aku bener-bener demam panggung,” kataku dengan keringat dingin. “nanti ada Reza kan yang ngeliat?” ejek Gea. “jadi nama panggilanya Reza,” kataku sedikit tersenyum. “iya.” Hari yang membuatku di selimuti oleh kegerogian yang luar biasa. Karena aku dan Gea akan mewakili kelasku untuk memberikan penampilan yang terbaik.
Acara itu pun dimulai. Dimulai dari kelas 9 lalu dilanjutkan kelas 8 lalu menuju kelas 7. Penampilan yang begitu spektakuler telah ditampilkan dengan penuh semangat. Beribu-ribu tepuk tangan mengiri suasana tersebut. Tiba giliran kelas 7 C yang menampilkan aktrasinya. Jantungku semakin berdebar dengan kencang. Keringat bercucuran ke seluruh badan. Dengan genggaman erat tangan Gea aku dengan gugupnya menaiki panggung dan mengecek mikrofon. Tepuk tangan pun mulai terdengar. Seolah aku tak bisa membayangkan diriku nanti. Dentuman musik R&B mulai terdengar. Dalam hitungan detik syair lagu akan mulai dinyanyikan. Gea dengan semangat dan PD-nya menari-nari happy, sedangkan aku … ????
Keringat bercucuran dari tubuhku. Keringat dingin menyelimuti seluruh tubuhku. Dengan perasaan yang tak karuan aku mulai melantunkan lagu kesukaanku itu. Siswa-siswa bertepuk tangan lama kelamaan aku merasa semakin enjoy. Saat aku menyanyi, aku melihat Reza tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumanya yang tak kalah manis hehe J. Lagu itu pun usai ku nyanyikan. Pertunjukan kurang dua kelas lagi. Ada yang dans, drama, nyanyi, pelawak, sampai dengan band.
Hari itu hari yang menyenangkan bagiku. Melihat ia tersenyum kepadaku membuatku semakin bersemangat. “Gadis,” sapa Ze. “Eh, Ze. Yang lain kemana?” kataku balik tanya. “tuh,” kata Ze menunjuk Vhe dan Gea. Vhe dan Gea melambaikan tanganya kepadaku dan Ze. Tiba-tiba Ze menarik tanganku meninggalkan tempat itu. “Gadis, Ze. Mau kemana?” tanya Gea. “bentar aja,” teriak Ze dari kejauhan. Gea mengajakku ke tempat yang sepi, dan Ze tampak serius memandangku. “apa kamu bener suka Reza?” tanya Ze menatap kedua mataku. Aku tidak tau harus berkata apa. Semua kebingunan merasuki otakku. Aku terdiam mematung. “iya,” kataku lirih.
“aku punya informasi tentang si Reza itu,” ungkap Ze. “info apa?” tanyaku kebingungan. “dia sudah mempunyai pacar,” kata Ze berbisik kepadaku. “kamu tau dari siapa?” tanyaku sedih. “kamu tau Viona Adelima kan?” kata Ze menguatkan. “ya.” “dialah pacarnya,” kata Ze. Aku sedikit ragu dan meneteskan air mata. “kenapa aku mencintai orang yang salah selama ini?” kataku menambah tangisanku. Isak tangisku terdengar oleh Vhe dan Gea. “kenapa dia?” tanya Vhe dan Gea. “kamu tidak salah mencintai dia tetapi kamu hanya belum beruntung mendapatkanya,” hibur Ze. Ze berbisik kepada Gea dan Vhe atas semua ini. “sudahlah Dis, kenapa harus menangis karena cinta?” hibur Gea. “iya, dia bukan sosok yang baik untuk kamu. Banyak cowok yang mau sama kamu di luar sana. Bahkan lebih baik dari Reza,” ungkap Vhe memberi semangat. Aku terharu dengan semuanya. Aku memeluk erat tubuh ketiga sahabatku itu dengan penuh keikhlasan dan aku tau dia bukanlah untukku.

Selasa, 07 Mei 2013

Blackberry Saus Kacang


Elisa masih tetap santai melihat teman temannya yang histeris di buat anak baru yang bernama Hafiz, Elisa memang tergolong cuek dengan apapun.
                “el, yuu ikut gue ke cowo kece” ajak Delisa sahabatnya
                “apasih buang buang waktu aja” ucapnya simple
                “yeee yaudah, dia kan pake Blackberry tuh Tadi banyak yang minta pin nya” jelas Delisa
                “yee gue aja ngga pake BB, ya percuma minta minta juga, noh liat Samsung gue” Delisa agak kesal
                Hari hari berlalu berubah menjadi minggu, Elisa yang kini sudah tidak cuek lagi dengan kehadiran Hafiz yang terkenal kece itu, mulai dari stalking profil nya, ngecek ngecek Blackberry teman nya dan kadang mengikutinya sampai di depan pintu kelasnya.
                Ketika sedang asih mengintai Hafiz, terdengar langkah kaki dan suara candaan musuh Elisa dia bernama Farah, Indah, Bela dan Siska.
                “eh mau ngapain lo,cewe buluk kaya lo ngga pantes ya ada di depan ruang kelasnya Hafiz yang super kece” ucap Farah yang tiba tiba mengagetkan Elisa
                “ih jijik banget kali yah ngejar ngejar cowo yang sebenernya itu jelek dan ngga penting kaya Hafiz” volume suara Elisa di perbesar agar terdengar jelas oleh Farah dan kawannya
                “hahahah emang muke lo cantik apa sok jual mahal banget bilang Hafiz jelek” sambung Indah yang tidak terima
                Kemudian Hafiz keluar dari kelasnya kerena merasa terpanggil oleh gadis gadis itu.
                “ada apa sih rebut rebut panggil panggil nama gue pula” hafiz memotong pembicaraan
                “ini nih ada cewe jablay ngata ngatain lu jelek” jawab Bela
                Hafiz sudah sering di puji puji di sekolahnya dia yang dulu dan sekarang, karena sudah terbiasa dia merasa tidak terima atas ucapan Elisa yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi baginya.                 “kalo lo berani ngatain gue, gue minta PIN Blackberry lu. Lu boleh bully gue khusus di grup para fans gue” Hafiz agak sombong
                “oke gue akan buktiin tapi bukan sekarang, tapi nanti liat aja” ucap Elisa menantang
                Keesokan harinya Elisa makin di buat penasaran oleh Hafiz, dia suka tapi pun juga benci karenah telahj dilantunkannya nada menantang itu, ia semakin ingin mempunyai Blackberry untuk menjawab semua tantangan itu.
                Elisa terlahir bukan dari keluarga kaya, namun di lingkungan sekitarnya dia tidak ingin terlihat miskin, tidak terlalu miskin tapi bisa di sebut golongan menengah kebawah. Ayahnya hanyalah buruh tani dan ibunya hanyalah tukang cuci baju.
                “mak Elisa minta Blackberry dong” ucap Elisa entang
                “Blackberry itu apa” jawab Ibu Elisa
                “ya handphone lah, elisa mau dong dibeliin itu yang paling murah aja deh palingan 2 jutaan” jawab elisa dengan mudah
                “tapi kan kamu udah punya handphone nak” keluh ibunya
                “elisa janji kok nanti elisa bantuin emak nyuci biar dapet duit banyak. Boleh ya?” sahut elisa sambil tersenyum
****
                Setelah 2 bulan membantu ibunya bekerja Elisa kini sudah menggenggam sebuah telepon pintar Blackberry yang dulu di idam idamkannya, tapi sayang belum sepenuhnya di bayar masih ada yang harus di cicilnya.
                “del bagi pin nya Hafiz, mau gue tantangin dia” ucap Elisa
                “ nih *******” dan Delisa memberikannya
                “ masukin gue ke grup fans nay ituh yah, ngga takut gue” ucap Elisa enteng
                “buat Hafiz yang gayannya senga tapi muka nya itu juelek banget jangan sok laku dan sok kebanyakan fans. Paling fans fans itu dapetnya dari tong sampah” tutuh Elisa via BBM
                Merasa tidak terima, seluruh orang yang ada di grup itu lalu menyerbu Elisa dengan kata kata yang seimbang dengan yang di ucapkan Elisa.
                Hafiz lama kelamaan penasaran dengan Elisa, sedikit demi sedikit ia mendekatinya walau Elisa masih tetap jutek. Tapi setelah 3 bulan berlalu mereka sangat dekat sekali. Elisa kini hampir tidak pernah curhat lagi dengan Delisa, mereka ke kantin hanya berduaan saja tak peduli gadis gadis di sekeliling mereka mendengus kesal, mereka sering BBM an dan sering mengumbar kemesraan di grup itu, walau belum pacaran tapi mereka sangat kesal sekali.
                Mungkin hari ini adalah puncak kemarahan mereka, atau mungkin sudah terlalu matang karena suasana hati yang sangan panas melihat mereka berdua duan di dunia nyata dan dunia maya.
                “hai Elisa cantik BB baru yah, boleh dong liat” Farah menghampiri Elisa yang sedang duduk sendirian di kantin. Waktu itu Hafiz tidak masuk karena sakit jadi gadis gadis itu berani mendekati Elisa. Mereka bergerombol jumlahnya 15 termasuk Delisa si sahabat penghianat.
                Farah mengambil paksa handphone Elisa, elisa dengan cepat berusaha menggapai nya tapi tidak sampai, Delisa langsung memegang tangannya dan diletakan kebelakang. Dibantu Bela, indah, dan siska tangan Elisa sudah tidak bisa bergerak sama sekali. Anisa menutup mulutnya agar tidak berisik.
                “cewe cantik udah ngga bisa berkutik lagi deh, bagus dong ! ehm batagor kalian udah habis belom” ucap Farah yang dari tadi melotot ke arah Elisa. Kebetulan mereka janjian untuk beli batagor entah untuk apa.
                “ehm batagor gue udah abis nih, mana hape nya Elisa” ucap Farah sambil melebarkan tanganya bersiap untuk menerima Blackberry Elisa
                Di bukanya tutup handphone itu, dilepas batrenya lalu disiramkan saus kacang sisa batagor NYA Tadi, elisa sempat meronta namun tak dapat mengubah keadaan. Lalu disiramkan lagi sehingga seluruh permukaannya dilumuri saus kacang.
                15 bungkus sisa saus kacang hanya untuk di tumpahkan di Blackberry Elisa, Elisa hanya bisa menangisi hasil kerja kerasnya dan ibunya selama ini, dia sesekali memberontak namun karena banyaknya mereka ia tak sanggup.
                “eh udah deh, kayanya enak di makan. Udah yuuu kita pergi aja. Bye Elisa emuach” Ajak Bela
                Perjuangannya selama ini untuk mendapatkan Blackberry itu kini hanyalah handphone rusak yang dilumuri saus kacang, ia berharap hp nya masih berfungsi dengan benar namun yang ditemuinya hanyalah hp saus kacang yang mati total.
                Elisa yang menangis lalu kemudian membersihkan handphone nya dnegan bajunya sehingga baju Elisa sangat kotor sekali.
                Setelah Hafiz kembali masuk sekolah, ia langsung menyatakan cintanya pada Elisa. Karena Elisa sangat mengidam idamkannya sudah pasti dia menerima nya, dan benar sekali cintanya di terima oleh Elisa.
                Walau tanpa handphone Elisa masih sering sekali berkomunikasi dengan Hafiz, justru mereka lebih dekat dari sebelumnya, Elisa dan Hafiz keduanya kini sangat saling menyayangi. Namun di balik itu semua masih ada teman teman Elisa yang sirik dan benci melihat mereka berdua.
                “si cantik elisa kok belom kapok yah, masih aja ngedeketin Hafiz. Masih kurang saus kacangnya?” Tanya Siska dengan nada mengancam
                “kayanya masih kurang deh, heeey kalian udah pada habis kan Batagornya? Yuuu lang aja siramin ke komuknya dia” ajak Fara
                Tanpa basa basi lagi mereka menyiram saus kacang dari atas kepala Elisa, walau hanya terkena sampai bahu saja tapi itu sungguh parah. Elisa sempat mengelapnya ke baju baju mereka tapi tak lama kemudian mereka pergi, ia langsung pulang kerumah dengan keadaannya yang seperti itu.
                Atas kejadian yang terjadi belakangan ini, kini Elisa sudah menjauh dari Hafiz tapi sesungguhnya Elisa masih sayang sekali dengan Hafiz, tapi ia merelakannya begitu saja tapi sesungguhnya dia belum ikhlas. 2 minggu Elisa dan Hafiz tidak ada komunikasi sama sekali, hafiz si cowok kece itu pastinya tidak akan membuang buang waktunya hanya untuk Elisa, banyak sekali cewek cewek yang lebih cantik dari Elisa yang menggodanya.
                Tepatnya hari jumat Hafiz melontarkan kalimat yang menyayat hati tepat di hadapan Elisa.
                “aku rasa kita udah ngga cocok lagi, kamu jauhin aku tapi aku butuh perhatian kamu, kadang aku mulai bosan dan sekarang aku sudah berpaling hati dari kamu. Maaf mungkin hanya CUKUP SAMPAI disini perjalanan kita, maaf Elisa sayang. Itu kalimat Sayang yang terakhir dari gue buat lo” hafiz menjelaskan panjang lebar.
                Rasanya seluruh jarum yang ada di dunia ini tertancap di hati Elisa, Rasanya seluruh darah elisa ingin habis, rasanya juga paru paru Elisa berhenti menghirup oxygen, rasanya seperti 1000 tamparan di persembahkan untuk Elisa, Sumpah rasanya sakit sekali itu adalah rasa yang paling sakit yang dialami oleh Elisa.
                Kini Elisa selalu sendiri, dimanapun dan kapanpun setelah semua orang meninggalkanya. Kini ia hanya duduk di meja kantin sendirian tanpa sebuah makanan yang terpampang di meja nya, ya dia membiarkan perutnya lapar untuk melunasi tagihan Blackberry yang ia cicil.
                Matanya terarah di meja kosong di depannya, tempat dimana dia bercanda tawa dengan Hafiz bersuap suapan dengan Hafiz, dan segalanya yang memang indah untuk di kenang. Kadang dengan sendirinya pipi itu basah karena air mata yang tiada hentinya mengalir. Kosong ? kini meja itu tidak Kosong lagi melainkan diisi oleh sepasang sejoli yang nampaknya sangat serasi sekali. Siapa dia? HAFIZ dan DELISA. Iya delisa! Sahabat dekat Elisa yang dulu
                Ini jauh lebih sakit dibanding  Hafiz yang saat itu memutuskan hubungannya, air mata Elisa yang tadi hanya seperti aliran sungai kini berubah menjadi air terjun, sungguh deras sekali. Sapu tangan Elisa seluruhnya basah tidak dapat lagi menampung air matanya.
                Semua yang ia lakukan disana bersama Hafiz, kini di perlihatkan ulang oleh Hafiz tapi bukan dirinya yang disana, bukan Elisa melainkan Delisa. Perut Elisa semakin lapar karena tenaganya terkuras melihat pemandangan itu, pemandangan dimana Delisa dan Hafiz bermesra mesraan seperti yang pernah dilakukanya dulu.
                Kini Elisa dalam keterpurukan, elisa benar benar jatuh lagi. Tak ada satupun orang yang bisa membangkitkannya, malahan menjatuhkannya seperti yang dilakukan Delisa. Dulu ia menggenggam Blackberry kini musnah dan dulu dia menggenggam tangan Hafiz kini hanya tinggal kenangan.
                Elisa sempat menulis sesuatu di buku Diary nya sebelum ia mati kelaparan, Elisa tidak makan? Tidak, ia merasa bersalah sekali dengan ibunya dan sehingga ia tidak mau makan, juga kerena Hafiz dan Delisa yang berpacaran. Ia kabur dari rumah dan pergi ke tempat yang sangat jauh sekali, dimana tidak ada seorang pun disana.
                “Elisa merasa bersalah sama mamah, elisa buang buang duit mamah hanya untuk segenggam Blackberry yang belum lunas dibayar tetapi udah rusak, mamah kalo elisa kabur jangan kangen yah, tapi elisa akan kangen terus kok sama mamah.

Hafiz, aku tuh sayang banget sama kamu melebihi sayangnya aku ke kamu, tau ngga sih setiap malam ratusan butir airmata jatuh hanya untuk kamu, hatiku terasa mati karena kau bunuh, kau bunuh dengan cinta mu itu. Aku sayang kamu Hafiz semoga langgeng yah sama Delisa ! jaga baik baik dia, dia orangnya baik banget makanya dia sahabat ku. Biarkan aku pergi yah, biarkan aku sendiri bersama rasa sakit yang menggebu gebu ini :’) “ tulis Elisa dalam buku hariannya, kemudian ia pergi entah kemana sampai pada suatu hari seseorang menemukannya tergeletak membiru, membusuk dan tak bernafas lagi….


SELESAI ! :’(
Ini murni hasil gue, demi Allah gue ga copas ! hargain dong yah jangan dicopas. Semoga kalian suka dan maaf kalo jelek

Senin, 06 Mei 2013

Semakin ku pendam, Semakin kau jauh

Disuatu ketika, 2 orang sahabat; si Cowok dan si Cewek, sedang duduk-duduk di Taman. Mereka berbincang asik, sampai pada akhirnya, si Cowok membuka percakapan.
“Eh, menurut lo, sekarang saat yang tepat gak sih buat nembak gebetan gue?” Kata si Cowok, bertanya kepada sahabatnya; si Cewek.
Si Cewek terdiam, matanya sempat ingin mengeluarkan air mata mendengar pernyataan sahabatnya tersebut. Ia mencoba tegar.
“Terserah lo, ikutin apa kata hati lo aja”. Kata si Cewek, dengan nada pasrah dan kecewa.
“Lo serius? Gue sih pengennya nembak sekarang, soalnya gue udah terlanjur sayang banget nih sama gebetan gue”. Kata si Cowok, frontal.
JLEB! Hatinya seperti ditusuk sebilah pedang. Si Cewek hancur, harapannya pupus ditengah jalan untuk mendapatkan si Cowok, sahabatnya sendiri.
Si Cewek menyesal, karena dulu, ia pernah mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya ke si Cowok. Tapi ia takut.
“Lo kenapa?” Kata si Cowok, bingung melihat ekspresi wajah si Cewek.
“Gapapa kok, udah, lo tembak aja tuh gebetan lo”. Kata si Cewek, dengan nada suara yang makin melemah. Ia hampir menangis.
“Oke hari ini juga, gue bakalan nembak gebetan gue. Hehe, makasih ya sarannya”. Kata si Cowok, seraya tersenyum lebar.
Si Cewek hanya bisa terdiam. Ia tak sanggup lagi menahan tangis, hatinya sudah terlalu lemah untuk bertahan. Ia memutuskan untuk pulang.
Pada akhirnya, si Cewek hanya bisa pasrah. Ia memandang lurus sahabatnya yang sudah berstatus pacaran. Si Cowok, kini telah bahagia dengan seseorang.
———-Tamat———-
Hikmah: Jangan suka memendam perasaan terlalu lama, karena pada akhirnya, kamu akan menyesal karena gak sempet buat ngungkapin semuanya.

Jumat, 03 Mei 2013

You Must Know!

Gue duduk di starbucks malam ini, ditemani laptop yang setia di samping gue. Siapa yang nemenin gue ? itu ga penting banget karena yang pasti gue ga sendirian ngenes di pojokan starbucks. Malam ini iseng gue buka web dan menemukan beberapa berita fenomenal yang menjadi trend masa kini, atau bisa kita sebut ini trend yang sangat tidak baik untuk di tiru tapi justru menjamur.


Pertanyaan gue saat membaca artikel web itu Cuma satu, “ada apa dengan moral Negara ini ?”
Negara ini menjunjung Pancasila yang pernah kita pelajari dari awal bangku sekolah.
Ooohh tidak bisa! miris bung, hidup ini kejam dan Pancasila seperti tidak ada harganya lagi.
 

Dimana rasa malu saat kalian mengikuti trend yang sesungguhnya tidak baik? bagaimana nasib orang di sekitar kita bila sampai terjadi hal serupa?


Gue Cuma bisa bilang “MIRIS”.


Seperti yang gue jabarin di atas, trend yang ada sekarang ini banyak yang merupakan pengaruh buruk untuk bangsa ini dan gue ambil 1 trend yang buat gue paling terhentak, Broken Home/perceraian.



malam ini hujan turun lagi,
bersama kenangan yang mungkin luka di hati,
luka yang harusnya dapat terobati,
yang ku harap tiada pernah terjadi,

ku ingat saat ayah pergi dan kami mulai kelapran,
hal yang biasa buat aku hidup di jalanan,
di saat ku belum mengerti arti sebuah perceraian,
yang hancurkan semua hal indah yang dulu pernah aku miliki,

wajar bila saat ini ku iri pada kalian yang hidup bahagia berkat susana indah dalam rumah,
hal yang selalu aku berikan dengan hidup ku yang kelam,
tiada harga diri agar hidup ku terus bertahan,

mungkin sejenak dapat aku lupakan,
dengan minuman keras yang saat ini ku genggam,
atau menggoreskan kaca di lengan ku,
apapun kan ku lakukan ku ingin lupakan,

namun bila ku muliai sadar dari sisa mabuk semalam,
perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan,
di saat ku telah mengerti betapa indah di cintai,
hal yang tak perah ku dapatkan sejak aku hidup di jalanan,


Last Child-Diary Depresiku



Dalam keadaan merenung ini gue baca lirik lagu dari band bernama Last Child ini, kebetulan memang lagu berjudul Diary Depresiku ini adalah kisah nyata dari sang vocalis. Ikut sakit saat membayangkan bagaimana nasib anak-anak korban broken home 

Bagi kalian yang hidup normal tetapi banyak mengeluh, pernahkah kalian sadar bahwa keluarga yang utuh itu lebih berharga ketimbang harta dan dimanjakan? 

Pernah bayangin kalau kalian tak memiliki keluarga yang utuh? atau keluarga kalian sendiri rusak karena kedua orang tua yang tidak akur?

Bagaimana rasanya? dan pantaskah kalian merasa lebih tinggi dari mereka yang broken home???

Ohhh Tidak bisaaa! 

Pikiran seperti itu sama saja menunjukan bahwa kalian tak pernah punya hati dalam menjalani hidup.


Kembali dalam pancasila Negara besar kita ini, masih ingat sila pertama? KETUHANAN YANG MAHA ESA. Kita hidup di Negara timur yang beradap, kita juga memiliki asas KETUHANAN, semua orang yang memiliki agama paham bahwa perceraian itu sangat lah di benci oleh Tuhan apapun agamanya. Mungkin ada alasan bahwa itu jalan terbaik bagi kedua orang tua kita karena tak pernah akur, disini gue punya pertanyaan besar buat para orang tua yang mengatakan cerai adalah jalan terbaik.

“Emang kemana aja kalian pas masa PDKT, Pacaran, dan berkenalan ? kenapa tidak memahami karakter masing-masing lebih dalam ? kenapa tidak mempelajari kehidupannya dan keluarganya lebih dalam ?”
Lebih baik sebelum menjalani pernikahan kita bisa memikirkan yang baik dan buruknya bila berpasangan, cermat dalam memilih, ketahui lebih dalam dan barulah menikah.
Menikah ga sama dengan pacaran yang bisa putus nyambung semaunya, tapi anehnya memang pernikahan sekarang sama dengan pacaran yang bisa putus nyambung, MI to the RIS. MIRIS!


Sebagai korban broken home tentu saja anaklah yang paling mendapatkan pukulan, bagaimana kondisinya secara psikologis? bisakah dia di terima dan menerima lingkungannya secara normal?




Anak selalu menjadi korban dari kisah ini, tetapi itu juga bukan kesalahan mereka walaupun nantinya hidup membawa beban tersendiri. Ga selamanya anak broken home itu rusak dan di ambil garis lurus serusak ortunya. Justru menurut gue anak-anak broken home bisa lebih baik dari anak yang hidup normal karena mereka telah mengetahui pahitnya hidup sejak kecil.

Apa yang membuat kamu harus takut sebagai anak broken home ? malu ? ooohhh tidak perlu ! kalian cukup menjadi diri sendiri dan buktikan kalau bisa berhasil !

Kalian adalah anak-anak yang wajib belajar dari masa lalu dan jangan sampai mengulanginya lagi dalam kehidupan kalian nantinya.
 
Kalian bisa buktikan kalau kalian ini adalah anak-anak terpilih yang bisa sukses dikemudian hari walaupun tidak sempurna, kalian ini hebat !

So, buat sahabat-sahabat gue yang broken home, hidup itu memang berat, tapi tunjukan pada dunia kalian bisa bangkit dari keterpurukan !

Buat kalian yang hidup di lingkungan keluarga yang lengkap dan bahagia, wajib bagi kalian untuk bersyukur dan jangan pernah melakukan trend yang bodoh ini di kehidupan kalian nantinya.


Pertanyaannya, bisakah kita rubah trend perceraian yang bobrok ini ?

Angan

Hai, apa kabar untuk kamu yang disana? Untuk kamu yang selalu berhasil membuatku tersenyum, untuk kamu yang selalu membuat hidupku jauh lebih berarti, untuk kamu yang selalu membuat hidupku jauh lebih bermakna.
tidakkah kamu mengira, kamu sangatlah berarti untukku?
Tahukah kamu? Aku hanya mampu mengagumimu dari kejauhan. Melihat sosok sempurna yang membuatku semangat menjalani kehidupan. Mungkinkah, aku jatuh cinta?
Ah, bodoh. Aku tak mungkin jatuh cinta padamu. Aku hanya manusia biasa, tidak seperti mereka-mereka yang mempunyai segalanya.
kamu terlalu sempurna untuk ku miliki”.
Andai kamu mengetahui isi hatiku, andai kamu mengetahui perasaan yang ku simpan sejak lama, andai saja aku mempunyai keberanian untuk menyatakan semua yang kusimpan terhadapmu.
Aku pun lelah, aku pun tak mampu lagi untuk bertahan menyimpan perasaan  ini sendirian. aku butuh kamu, aku butuh kamu sebagai tempatku untuk mencurahkan isi hati ini”.
Tapi ternyata Tuhan tak merestui kita, Tuhan tak merestui hubungan yang (sebenarnya) ingin ku bentuk bersamamu. Kamu telah menemukan seseorang yang jauh lebih sempurna daripada aku. Kamu telah menemukan dia. Dia yang punya segalanya, dia yang sempurna, dia yang selalu ada untuk mengisi setiap detik nafas yang kamu hembuskan.
Aku hanya terlalu cepat untuk merasakan indahnya jatuh cinta, terlebih lagi dengan sosok sempurna sepertimu. Tapi setidaknya, aku bahagia mengenalmu. Aku bahagia dekat denganmu, meski hanya sebentar.
Sebuah angan yang terlalu jauh untuk ku gapai, sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk ku capai, dan sebuah harapan yang terlanjur sirna untuk ku dapatkan.
jujur saja, aku bahagia melihatmu dengannya. meski hati ini, tak pernah rela melepas bayang-bayangmu”.

Senin, 29 April 2013

lirik lagu Cobra Starship: Guilty Pleasure

and i came here to make you dance tonight
i don't care about my guilty pleasure for you

and i don't even know
what kinda fool you're taking me for
so you've got some brand new clothes,
you never could afford before

oh brother spare us all
we don't care anymore
we just wanna get down on the floor
you sell yourself to make it
you can dish it, but can you really take it

you're never gonna get it with nothing
cause nothing's what you got in your head
so stop pretending

[2x]
i came here to make you dance tonight
i don't care about my guilty pleasure for you
shut up cause we won't stop
and we're getting down till the sun's coming up

and i don't even read
what the papers gotta say about me
oh, no i can't believe
they take it so serious, seriously

i'm so bored, oh please don't talk anymore
shut your mouth and get down on the floor

so cynical
poor baby i can dish it cause i know how to take it

you're never gonna win em all
so fuck em if they can't take a joke
i'm just playing

[2x]
i came here to make you dance tonight
i don't care about my guilty pleasure for you
shut up cause we won't stop
and we're getting down till the sun's coming up

and maybe someday i'll believe
(maybe someday i'll believe)
that we are all apart of some bigger plan
tonight i just don't give a damn
(so shut your mouth it's time to dance)
if the world is ending, i'm throwing the party

[repeat till fade out]
and i came here to make you dance tonight
i don't care about my guilty pleasure for you
shut up cause we won't stop
and we're getting down till the sun's coming up